PENJELASAN TENTANG IKHTIYAR
Allah SWT berfirman:
وَمَا مِنْ دَآبَّةٍ فِى الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتٰبٍ مُّبِينٍ
"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)."
*(QS. Hud 11: Ayat 6)
Tafsir ayat:
1.) Yang dimaksud binatang melata di sini ialah segenap makhluk Allah yang bernyawa.
2.) Menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan tempat berdiam di sini ialah dunia dan tempat penyimpanan ialah akhirat. Dan menurut sebagian ahli tafsir yang lain maksud tempat berdiam ialah tulang sulbi dan tempat penyimpanan ialah rahim.
Dalam ayat tersebut mengandung beberapa makna meskipun dalam hakikat maknanya adalah Allah menjamin seluruh makhluk dimuka bumi ini.
Namun hal ini kita kupas makna lain diantaranya adalah makna ad-dabbah yang berarti semua makhluk yang bergerak. Dalam hal ini bahwa jika ingin mendapatkan sebuah rezeki dimana rezeki tersebut pada hakikatnya
sudah dijamin oleh Allah maka harus dengan upaya ‘gerak’. Oleh karena itu semakin besar dan besar gerakan seseoarang untuk mendapatkan rezeki, besar pula rezeki yang akan diperoleh. Karena pada hakikatnya usaha yang dilakukan tersebut adalah sebuah tanda akan sebesar apa rezeki tersebut.
Dalam ilmu tasawuf dijelaskan bahwa bila seseorang ditakdirkan oleh Allah dapat melakukan usaha entah berupa apapun maka hal tersebut merupakan tanda seseorang akan memperoleh hasil. Jadi pada dasarnya segala anggota tubuh yang dimiliki dapat menjadi
sebuah jalan memperoleh rezeki dari Allah. Seperti contoh rezeki berupa istri, jika seseorang
hanya berpangku tangan untuk memperoleh istri yang di idam-idamkan tanpa adanya ikhtiyar maka hal tersebut hanya merupakan omong kosong.
Ada sebuah cerita (yang di tuturkan oleh KH. Muchlas) bahwa pada suatu saat seorang kyiai meminta kepada pengurus pondok untuk mencatat semua santri yang nakal dan memiliki kasus berat. Maka seketika para pengurus mencatat beberapa jumlah santri yang masuk dalam black list santri bermasalah, kemudian disetorkan kepada kyai. Selang beberapa pengurus
merasa janggal, karena sang kyai ternyata tidak melakukan tindakan apapun yang dikira oleh para pengurus para santri tersebut akan dihukum. Oelh karena itu para pengurus menanyakan perihal tersebut kepada kyia. Dan alangkah terkejutnya para pengurus tersebut mendengar tutur ungkapan kyai yang mengatakan bahwa beliau meminta nama santri bermasalah untuk lebih didoakan dalam setiap doa kyai untuk dapat menjadi santri yang baik, dan bermanfaat.
Dari kisah tersebut pula dapat diambil kesimpulan bahwa untuk memperoleh rezeki berupa ilmu manfaat dan barokah haruslah pula dengan diiringi ikhtiyar beserta doa, disamping harus memperhatikan ridlo guru. Jadi, bagi para penuntut ilmu adanya ikhtiyar belajar adalah merupakan usaha gerak untuk memperoleh sebuah kecerdasan dan dengan ikhtiyar adab dan mengabdi merupakan sebuah usaha gerak memperoleh ilmu yang manfaat dan barokah.
Cerita diatas sejalan dengan wasiat Mbah Ismail pendiri dan perintis Ponpes AlHidayah Karangploso Malang pada tahun 1992. Beliau berpesan kepada seluruh guru dan pengajar hendaknya selalu mendokaan baik dan kemanfaatan bagi para murid dan santri.
Akhir kata, semoga kita duitakdirkan oleh Allah menjadi hamba pilihanNya yang senantiasa dapat istiqomah dalam ikhtiyar dan menghamba padaNya, Amiiinnn.
Penulis : Yazid Bustomi
Kontributor : Tim El-Hida_Press
Ditulis saat sowan kepada KH. Muchlas Ismail
Tidak ada komentar:
Posting Komentar