Sabtu, 28 Desember 2019

IKHTIYAR



PENJELASAN TENTANG IKHTIYAR

Allah SWT berfirman:

وَمَا مِنْ دَآبَّةٍ فِى الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا  ۚ كُلٌّ فِى كِتٰبٍ مُّبِينٍ

"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)."
*(QS. Hud 11: Ayat 6)

Tafsir ayat:
1.) Yang dimaksud binatang melata di sini ialah segenap makhluk Allah yang bernyawa.
2.) Menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan tempat berdiam di sini ialah dunia dan tempat penyimpanan ialah akhirat. Dan menurut sebagian ahli tafsir yang lain maksud tempat berdiam ialah tulang sulbi dan tempat penyimpanan ialah rahim.

Dalam ayat tersebut mengandung beberapa makna meskipun dalam hakikat maknanya adalah Allah menjamin seluruh makhluk dimuka bumi ini. 
Namun hal ini kita kupas makna lain diantaranya adalah makna ad-dabbah yang berarti semua makhluk yang bergerak. Dalam hal ini bahwa jika ingin mendapatkan sebuah rezeki dimana rezeki tersebut pada hakikatnya 
sudah dijamin oleh Allah maka harus dengan upaya ‘gerak’. Oleh karena itu semakin besar dan besar gerakan seseoarang untuk mendapatkan rezeki, besar pula rezeki yang akan diperoleh. Karena pada hakikatnya usaha yang dilakukan tersebut adalah sebuah tanda akan sebesar apa rezeki tersebut.

Dalam ilmu tasawuf dijelaskan bahwa bila seseorang ditakdirkan oleh Allah dapat melakukan usaha entah berupa apapun maka hal tersebut merupakan tanda seseorang akan memperoleh hasil. Jadi pada dasarnya segala anggota tubuh yang dimiliki dapat menjadi 
sebuah jalan memperoleh rezeki dari Allah. Seperti contoh rezeki berupa istri, jika seseorang 
hanya berpangku tangan untuk memperoleh istri yang di idam-idamkan tanpa adanya ikhtiyar maka hal tersebut hanya merupakan omong kosong.

Ada sebuah cerita (yang di tuturkan oleh KH. Muchlas) bahwa pada suatu saat seorang kyiai meminta kepada pengurus pondok untuk mencatat semua santri yang nakal dan memiliki kasus berat. Maka seketika para pengurus mencatat beberapa jumlah santri yang masuk dalam black list santri bermasalah, kemudian disetorkan kepada kyai. Selang beberapa pengurus 
merasa janggal, karena sang kyai ternyata tidak melakukan tindakan apapun yang dikira oleh para pengurus para santri tersebut akan dihukum. Oelh karena itu para pengurus menanyakan perihal tersebut kepada kyia. Dan alangkah terkejutnya para pengurus tersebut mendengar tutur ungkapan kyai yang mengatakan bahwa beliau meminta nama santri bermasalah untuk lebih didoakan dalam setiap doa kyai untuk dapat menjadi santri yang baik, dan bermanfaat. 
Dari kisah tersebut pula dapat diambil kesimpulan bahwa untuk memperoleh rezeki berupa ilmu manfaat dan barokah haruslah pula dengan diiringi ikhtiyar beserta doa, disamping harus memperhatikan ridlo guru. Jadi, bagi para penuntut ilmu adanya ikhtiyar belajar adalah merupakan usaha gerak untuk memperoleh sebuah kecerdasan dan dengan ikhtiyar adab dan mengabdi merupakan sebuah usaha gerak memperoleh ilmu yang manfaat dan barokah.

Cerita diatas sejalan dengan wasiat Mbah Ismail pendiri dan perintis Ponpes AlHidayah Karangploso Malang pada tahun 1992. Beliau berpesan kepada seluruh guru dan pengajar hendaknya selalu mendokaan baik dan kemanfaatan bagi para murid dan santri.

Akhir kata, semoga kita duitakdirkan oleh Allah menjadi hamba pilihanNya yang senantiasa dapat istiqomah dalam ikhtiyar dan menghamba padaNya, Amiiinnn.


Penulis : Yazid Bustomi
Kontributor : Tim El-Hida_Press
Ditulis saat sowan kepada KH. Muchlas Ismail�

Minggu, 22 Desember 2019

ADA CERITA DARI NAHWU (ZAID & AMR)


KENAPA SI ZAID SELALU MEMUKUL SI 'AMR

Berikut ini kisah dibalik mengapa zaid selalu memukul ‘amr yang diambil dari kitab

النظرات للشيخ مصطفى لطفي بن محمد لطفي المنفلوطي المتوفى ١٣٤٣ هجرية بمصر

jilid 1 halaman 307.

Dahulu kala ada seorang gubernur dari Daulah Usmaniyah bernama Dawud Basya. Beliau ingin sekali belajar bahasa Arab. Kemudian ia menghadirkan salah seorang ulama’ dari ulama-ulama di negerinya. Suatu hari dia bertanya kepada ulama’ tersebut.

“Wahai guru, apa kesalahan si ‘amr sehingga si zaid memukulnya setiap hari”

“Apakah ‘amr mempunyai kedudukan lebih rendah dari zaid sehingga zaid bebas memukulnya, menyiksanya, dan ‘amr tidak bisa membela dirinya” Si gubernur menanyakan hal tersebut dengan menghentakkan kakinya ke tanah sambil marah-marah.

“Tidak ada yang dipukul , tidak ada yang memukul wahai gubernur, ini hanya permisalan saja yang dibuat ulama’ nahwu supaya memudahkan untuk belajar ilmu bahasa arab tersebut” jawab gurunya.

Jawaban sang guru tidak memuaskan hati sang gubernur, oleh karena itu ia marah lalu ia memenjarakan gurunya tadi. Kemudian ia menyuruh orang untuk mencari ulama’ nahwu yang lain. Pertanyaan yang sama diajukan seperti pertanyaan awal dan mereka menjawab dengan jawaban seperti ulama’ yang pertama. Gubernur kembali tidak puas, akhirnya guru barunya pun ikut dipenjarakan.

Satu per satu ulama’ negeri itu tidak bisa memuaskan gubernur dengan jawabannya. Alhasil, penuh lah penjara dengan pengajar nahwu dan sunyi lah madrasah-madrasah dari para pengajar dikarenakan para ulama’nya dipenjara. Kejadian ini menjadi perbincangan dimana-mana dan semuanya berusaha bagaimana mencari jalan keluarnya.

Sang gubernur kembali mencari guru dengan mengutus utusan untuk menjemput para ulama’-ulama’ ahli bahasa di Baghdad. Sang utusan berhasil menghadirkan ulama’ dari Baghdad di hadapannya. Beliau adalah pimpinan ulama’ yang paling ‘alim dari  para ulama’ di Baghdad. Sang ulama’ berani maju ke depan dan berkenan menjawab pertanyaan gubernur tersebut.

“Apa kesalahan ‘amr sehingga selalu dipukul oleh zaid ?” tanya Gubernur Dawud.

“Kesalahan ‘amr adalah karena ia telah mencuri huruf wawu yg seharusnya itu milik anda wahai gubernur. Huruf wawu yang saharusnya ada dua pada kata dawud ternyata cuma ada satu, oleh karenanya para ulama’ nahwu menugaskan si zaid untuk selalu memukul ‘amr, sebagai hukuman atas perbuatannya itu.” Jawab pimpinan ulama’ dengan tegas, sambil mengisyaratkan adanya huruf wawu di kalimat ‘amr setelah huruf ro’ (عمرو).

Mendengar jawaban dari ulama’ tersebut, sang  gubernur merasa sangat puas dan memuji ulama’ tersebut. Kepuasan hati sang gubernur membuatnya ingin memberikan hadiah. Ia menawarkan hadiah apa saja yang ulama’ tersebut kehendaki. Permintaan ulama’ tersebut sederhana.

“Aku hanya minta agar para ulama’ yang anda penjarakan dibebaskan semuanya” kata sang ulama.

Maka gubernur mengabulkan permintaannya. Akhirnya para ulama’ itu bebas dari penjara. Ulama’-ulama’ dari Baghdad tadi diberi hadiah sekaligus diberi uang transportasi dan diantar kembali ke negeri mereka.


Dinukil dari akun FB ايجول
Kontributor : Tim El Hida Press


Kamis, 19 Desember 2019

Kejujuran


KEJUJURAN 
Jujur adalah sifat terpuji yang selayaknya dimiliki oleh setiap manusia terlebih kamum santri. Jujur ibarat mutiara di tengah-tengah kemajuan zaman yang semakin langka dimiliki bahkan oleh kebanyakan manusia itu sendiri. Jujur secara bahasa bisa diartikan sebagai ketulusan dan keikhlasan hati, kebenaran ucapan dan sikap. 

Diantara makna dan letak kejujuran adalah:
1. Jujur dalam lisan
Yang dimaksud adalah jujur dalam lisan atau ucapan berkaitan langsung dengan informasi atau berita yang disampaikan, apakah itu benar atau salah. Baik yang telah berlalu maupun yang akan terjadi. 

2. Jujur dalam niat dan keinginan 
Jujur dalam hal ini terkait langsung dengan keikhlasan. Tidak ada dorongan sedikitpun kecuali hanya karena Allah. 

3. Jujur dalam tekad
Sebelum seseorang melakukan sesuatu, kadangkala seseorang memiliki tekad terlebih dahulu sebelum dapat mewujudkannya.

4. Jujur dalam melaksanakan tekad
Maksudnya adalah ketika ia tidak melaksanakan apa yang menjadi tekadnya maka itu bisa dikatakan sebagai kebohongan.

5. jujur dalam perbuatan
Adalah usaha seseorang untuk menampilkan perbuatan lahiriah agar sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya.



Artikel Pesantren 
Penulis        : Nila Andrias A
Kontributor : Tim El Hida Press
Tentang makna jujur dalam kutipan kitab Ihya' Ulumuddin Bab fi al-Shidqi wa Fadhilatih wa Haqiqatihi

Sabtu, 14 Desember 2019

Artikel Istimewa : SANTRI DAN ADABNYA


SANTRI DAN ADABNYA  (PART 1)

Santri, biasanya adalah orang yang mencari ilmu di dunia pesantren. Kebanyakan mereka berdomisili didalamnya. Namun ada juga dari mereka yang hanya mengaji saja tidak bertempat tinggal dipondok. Diantara instrumen pondok itu adalah Kyai sebagai pengampu dan pendidik para santri. Oleh karena dalam dunia pesantren terdapat adanya hubungan santri dan kyai maka perlu adanya aturan seorang santri agar dapat berakhlak terhadap kyai/gurunya. Seperti halnya keterangan berikut: (dalam kitab Majmuah Rasail Imam Ghozali)
آداب المتعلم مع العالم: يبدؤه بالسلام ، ويقل بين يديه الكلام ، ويقوم له إذا قام ، ولا يقول له : قال فلان خلاف ما قلت ، ولا يسأل جليسه في مجلسه ، ولا يبتسم عند مخاطبته ، ولا يشير عليه بخلاف رأيه ، ولا يأخذ بثوبه إذا قام ، ولا يستفهمه عن مسألة في طريقه حتى يبلغ إلى منزله، ولا يكثر عليه عند ملله.  

Artinya, “Adab murid terhadap guru, yakni: mendahului beruluk salam, tidak banyak berbicara di depan guru, berdiri ketika guru berdiri, tidak mengatakan kepada guru, “Pendapat fulan berbeda dengan pendapat Anda”, tidak bertanya-tanya kepada teman duduknya ketika guru di dalam majelis, tidak mengumbar senyum ketika berbicara kepada guru, tidak menunjukkan secara terang-terangan karena perbedaan pendapat dengan guru, tidak menarik pakaian guru ketika berdiri, tidak menanyakan suatu masalah di tengah perjalanan hingga guru sampai di rumah, tidak banyak mengajukan pertanyaan kepada guru ketika guru sedang lelah.”   

Dari kutipan di atas dapat diuraikan kesepuluh adab murid terhadap guru sebagai berikut:
1). Mendahului mengucapkan salam
Seorang santri hendaknya mendahului beruluk salam kepada guru atau kyai.  

2). Tidak banyak berbicara di depan guru atau kyai
Karena dengan adanya banyak berbicara bisa berarti merasa lebih tahu. Apa bila hal ini dilakukan di depan guru atau kyai, maka bisa menimbulkan kesan seolah-seolah murid lebih tahu dari pada gurunya, kecuali hal tersebut atas perintah guru.    

3). Berdiri ketika guru atau kyai berdiri
Bila guru atau kyai berdiri, santri sebaiknya lekas berdiri juga. Demikian pula jika guru atau kyai duduk sebaiknya santri juga duduk.   

4).Tidak mengatakan kepada guru atau kyai, “Pendapat orang ini berbeda dengan pendapat njenengan.” 
Sebaiknya santri meminta izin terlebih dahulu untuk menyampaikan pendapat orang lain yang berbeda. Jika guru berkenan, santri tentu boleh menyampaikan hal itu. 

5). Tidak bertanya-tanya kepada temannya
Santri hendaknya bertanya kepada guru atau kyai ketika ada hal yang belum jelas. 

6). Tidak mengumbar senyum ketika berbicara kepada guru atau kyai

7). Tidak menunjukkan secara terang-terangan karena perbedaan pendapat dengan guru atau kyai

8). Tidak menarik pakaian guru atau kyai ketika berdiri

9).Tidak menanyakan suatu masalah di tengah jalan hingga guru atau kyai sampai di rumah atau dalam posisi nyaman untuk ditanyakan

10). Tidak banyak mengajukan pertanyaan kepada guru atau kyai ketika beliau sedang lelah

Penulis menambahkan beberapa poin tentang adab santri kepada kyainya saat di pesantren:

1). Tidak pulang sebelum dapat ijin atau sudah ditentukan boleh pulang. Karena pada zaman sekarang banyak santri yang dikarenakan merasa sudah tidak ada kegiatan, ia memilih sendiri untuk pulang. Padahal di pondok masih terdapat kegiatan bersama yang dilakukan oleh kyai bersama santrinya.

2).Sowan kepada kyai jika hendak pulang atau kembali ke pondok.

3). Berziarah ke makam pendiri pesantren jika hendak pulang atau kembali ke pondok.


Artikel Pesantren Tim Elhida Press
Penulis : Alfi Nur Abidlohtul H


Jumat, 13 Desember 2019

Kisah 2 Wanita


Kisah Dua Wanita

   Syekh Ahmad Sihabuddin bin Salamah al-Qalyubi bercerita, dulu pada zaman Bani Israil ada seorang Ibu yang sangat sayang kepada anak laki-lakinya. Suatu ketika anaknya sedang sakit, sang ibu mencarikan obat dan dokter berkali-kali tetap saja anaknya tak sembuh. Kemudian Sang Ibu bernadzar "apabila anakku sembuh aku akan keluar dari dunia ini selama 7 hari"

Beberapa hari kemudian sang Anak sembuh, sembuh total. Sang ibu teringat nadzarnya dan bingung bagaimana memenuhi nadzarnya. Di suatu malam sang Ibu bermimpi bertemu dengan orang tua dan diberikan nasihat agar segera memenuhi nadzarnya atau musibah akan datang. Orang itu juga memberi tau bagaimana cara melaksanakan nadzarnya yaitu dengan dikubur selama 7 hari

Pada saat paginya Sang Ibu menceritakan semuanya dan meminta untuk dikuburkan selama 7 hari.Sebelum dikubur Sang Ibu berdo'a agar ketika didalam kubur tidak terkena bahaya apapun. Akhirnya Sang Ibu dikubur oleh anaknya.

Didalam kuburan yang sangat gelap Sang Ibu melihat ada satu lubang kecil yang mengeluarkan cahaya yang terang. Sang Ibu mengintip di lubang tersebut, melihat ada taman yang indah dan ada dua seorang wanita yang duduk dan mengobrol santai.

Mereka berdua sadar ada yang mengintipnya, kemudian berkata "hai perempuan dari pada engkau mengintip saja kemarilah bersama kami". Setelah itu Sang Ibu keluar dari kuburan dengan melewati lubang kecil yang digali sampai cukup untuk Sang Ibu keluar.

Kemudian Ibu yang masih hidup menghampiri kedua perempuan tersebut dan mengucapkan salam tapi keduanya tidak menjawab. Sang Ibu bertanya "wahai perempuan kenapa kalian tidak menjawab salamku?", keduanya menjawab  "salam itu ibadah, ini bukan lagi didunia ini alam kubur tidak ada yang ibadah, engkau mengucapkan salam itu ibadah disini bukan lagi untuk mencari pahala."

Ditengah-tengah obrolan mereka tiba-tiba dari atas turun dua burung garuda yang kemudian mengambil posisi diselah dua perempuan tersebut.  Satu diantara permpuan itu, dikipasi dengan sayap garuda. Tapi satu diantaranya dipatuki oleh garuda, sampai berdarah dan keluar otaknya. Tapi, mereka bertiga masih mengobrol walaupun diantaranya ada yang dipatuk garuda.

Ibu yang masih hidup bertanya, “Kalian memiliki tempat yang sama dan fasilitas yang sama, tapi kenapa satu dikipasi dan satu disiksa?”.  Perempuan yang dikipasi berkata, “Saya dulu, ibadah kepada Allah, dan taat kepada suami, dalam hal apapun saya meminta ridla kepada suami, sampai suatu ketika saya mati, suami saya meridlai”. 

Perempuan yang dipatuk garuda berkata, “Saya dulu juga beribadah kepada Allah, puasa saya bagus, salat saya juga bagus, oleh karena itu Allah memberi saya tempat yang bagus, tapi saya cerewet kepada suami, sampai suatu ketika saya m mati, suami saya tidak meridlai saya”.

Tiga ibu-ibu itu ngobrol terus, sampai tidak terasa sudah satu minggu. Dan anak dari ibu yang bernazar pun sudah menggali kubur si ibu. Anaknya sangat bahagia karena bisa melihat ibunya kembali, dalam keadaan yang selamat. 

Setelah keluar dari kubur, kampung tempat ibu itu ramai. Semua berdatangan ke rumah ibu dan anak itu karena kaget menganggap ada orang mati hidup lagi. Sang ibu pun bercerita pengalamannya di kubur, tentang pertemuannya dengan dua perempuan di taman dan masing-masing kisahnya. 

Ternyata, diantara yang hadir ada Abdullah, suami dari perempuan yang dipatuk gunung garuda. 
Kemudian disampaikan lah salam dari istrinya. Sang suami tampak belum ridla, tapi pada akhirnya ia ridla pada istrinya. 

Tidak lama ibu itu bermimpi lagi bertemu dengan dua perempuan. Keduanya sekarang sudah sama-sama enak dan sama-sama dikipasi oleh garuda. 



Penulis : Siti Nur Maulidiah
Editor sampul : Alfi Nur A
Kontributor : Tim El Hida Press
Diceritakan oleh KH.Moch Djamaluddin Ahmad ketika Haul istri beliau Ibu Nyai Hj. Khurriyyah Djamal dan diceritakan kembali oleh Ustadz Hasib Ismaili ketika pengajian hari Sabtu pagi di Ponpes Al Hidayah.

Sabtu, 07 Desember 2019

HIDUP SEDERHANA


HIDUP SEDERHANA

كُلْ وَاشْرَبْ وَالْبَسْ وَتَصَدَّقْ فِيْ غَيْرِ سَرَفٍ وَلاَ مَخِيْلَةٍ  ((رواه أبو داود وأحمد

"Makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bersedakahlah dengan tidak berlebih-lebihan (boros) dan tidak bermegah-megahan (sombong)".
(HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Hadis diatas menjelaskan tentang ketidakbolehan isrof yaitu berlebihan dalam makanan, minuman, atau pakaian. Maksud dari hadis tersebut kita dianjurkan untuk hidup sederhana. Oleh karena itu Makan selain merupakan kebutuhan pokok setiap makhluq hidup, terutama manusia. Makan juga merupakan sebuah perintah Allah yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW. Namun ada beberap hal yang patut diketahui supaya pekerjaan kita berupa makan (termasuk pula minum dan berpakaian) mendapat nilai ibadah dari Allah, diantaranya:

1).Niat menjalankan perintah Nabi dan perintah agama
Telah jelas kita ketahui bahwasanya bila segala kegiatan yang kita lakukan disandarkan dengan mengikuti perintah Nabi maka hal tersebut memiliki kandungan nilai ibadah, tidak terkecuali makan.

2).Tidak berlebihan, tidak pula sampai kelaparan
Sesuai dengan hadist diatas bahwasanya kita tidak boleh berlebihan dalam hal yang berkaitan dengan makan, minum, dan berpakaia. Karena hakikatnya ornag yang melakukan tindakan berlebihan dalam hal apapun termasuk dari golongan bala tentara setan. Karena setan menyukai orang-orang yang berbuat berlebihan. Oleh karena itu salah satu cara agar kita terhindar dari sifat berlebihan adalah dengan melakukan sedekah. Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan Abah Muchlas; bahwa orang yang terbiasa atau sering melakukan Isrof (berlebihan) maka hawa nafsunya akan senantiasa menuntut pada sesuatu yang lebih tinggi. Karena hawa nafsu tidak akan merasakan puas selamanya jika tidak dilatih dan dikekang.
Tidak diperbolehkan hingga mencapai taraf kelaparan disini yang dimaksud adalah jika seseorang sampai mengalami keadaan lapar yang berat, maka ia akan memiliki sifat tamak dan malas. Naudzubillah. Hal ini terjadi berbeda dengan orang yang lapar dalam keadaan puasa atau melakukan riyadloh (melatih diri).

3).Tidak menuruti hawa nafsu
Dalam masalah menuruti hawa nafsu, kadar yang dapat dijadikan acuan adalah kata cukup. Hal ini berarti bila kita makan atau minum hendaknya sampai pada tingkatan cukup. Maksudnya ialah ia mekan dan minum dalam posisi butuh atau lapar dan berhenti sebelum kenyang. Ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad. Karena orang yang selalu dalam keadaan kenyang akan rentan terhadap penyakit. Apalagi orang yang rakus.

Dari keterangan diatas, terdapat poin penting yang perlu diperhatikan. Yaitu kondisi hati dalam melakukan hal entah itu berupa makan, minum, ataupun berpakaian. Karena hati yang tak pernah dilatih untuk memerangi dan melatih nafsu akan sulit membedakan niatnya, apakah melakukan hal tersebut mengikuti perintah Nabi dan Agama ataukah menuruti hawa nafsu belaka. Oleh karena itu Rosulallah menganjurkan kita untuk senantiasa berpuasa dalam rangka melatih diri.

Kontributor: Tim Elhida Press
Penulis: Sylviyatul Aliyah
Editor : Yazid Bustomi
Diintisarikan dari Pengajian Rutin Selasa
Oleh KH. Muchlas Ismail 
26 November 2019

Pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Al-Hidayah

 http://gg.gg/ppdb-ppalhidayahkarangploso