Jumat, 21 Februari 2020

RELASI DAKWAH ISLAM WALI SONGO DENGAN ISLAM NUSANTARA


RELASI  DAKWAH  ISLAM  WALI  SONGO  DENGAN  ISLAM 
NUSANTARA
Islam merupakan agama yang bersyariat dari Al-Qur’an dan hadits. Keduanya merupakan sumber hujjah utama bagi umat Islam. Keduanya kemudian digali lebih mendalam oleh ulama yang memiliki kompetensi (ulama 
mujtahid mutlak) yang dalam fikih Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dikenal dengan madzahibul arbaah. Imam Maliki, Hanbali, Syafii, dan Hanafi adalah 
empat imam mazhab yang menggali dua sumber tersebut sehingga lahirlah ijma dan qiyas. Dari sinilah jamiyyah Nahdlatul Ulama meneruskan tradisi 
ulama mujtahid ini melalui kitab-kitabnya, yang dikenal di pesantren sebagai kitab kuning. Tradisi kajian kitab kuning dari ulama mazhab jugalah yang dijadikan hujjah para wali songo dalam menyebarkan Islam di Nusantara ini. Maka NU pun mensinergikan antara kajian kitab kuning dan pengembangannya di pesantren oleh ulama pesantren dan santrinya dengan dakwah Wali Songo yang bersumber dari Al-Qur’an, hadits, ijma dan qiyas. 
Kemudian kondisi ini diarifkan dengan kondisi kultur budaya di Jawa dan daerah lain di Nusantara. 
Konsep-konsep relasi dakwah Islam Wali Songo 
dengan Islam Nusantara ini dibincangkan oleh jurnalis NU Online Muhammad Faizin dengan Wakil Ketua PWNU Lampung KH Abdul Syukur yang juga dosen Universitas Islam Nageri Raden Intan Lampung pada Ahad (15/12). 

Berikut petikan wawancaranya.
1. Apa korelasi antara dakwah Wali Songo dengan konsep Islam Nusantara yang dimiliki NU?
Nahdlatul Ulama itu melanjutkan dan mengembangkan dakwah Islam dan tradisi Islam di Nusantara yang dikenal kini dengan nama Islam Nusantara. 
Jadi, Islam Nusantara ini bukan agama baru tapi Islam yang tetap merujuk kepada Islam yang dirisalahkan oleh Nabi Muhammad dan perkembangannya di dunia Islam, bersumber dari Al-Quran, hadits, ijma dan qiyas yang diikuti oleh mayoritas umat Islam di muka bumi, maka dinamakan Aswaja.

2. Jadi apa karakteristik Islam Nusantara ini?
Islam Nusantara adalah penerus dakwah Islam dari ulama terdahulu, ulama salafusshalih, empat iman mazhab, Wali Songo, ulama pesantren Mbah KH A 
Hasyim Asy'ari yang mendirikan NU sejak tahun 1926. Kemudian ini diteruskan para ulama dengan menyiarkan Islam, dakwah Islam untuk dipahami dan diamalkan oleh masyarakat Islam Nusantara, yaitu masyarakat 
Islam Indonesia. Jadi sekali lagi, Islam Nusantara bukan agama baru dalam Islam, tetapi Islam Nusantara adalah karakteristik agama Islam yang dianut dan diamalkan oleh masyarakat Islam Indonesia untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang diamalkan oleh penganutnya mampu mensinergikan ajaran Islam dengan kearifan lokal yang sesuai, cocok, tidak 
bertentangan dengan agama Islam Al-Qur’an, hadits, ijma dan qiyas. 

3. Terus dengan adanya konsep Islam Nusantara ini, apa yang bisa dihasilkan?
Islam Nusantara ini merupakan upaya mewujudkan Islam yang rahmatan, sejuk, damai, persuasif, basyiran wa nadziran dengan memperhatikan hikmah dan kearifan lokal. Islam Nusantara Islam menjaga ukhuwah dan maslahah dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Ini merupakan ciri utama Islam Nusantara yang juga diwujudkannya dengan “Islam wasathiyah” seperti konsep MUI, “moderasi beragama” yang digaungkan Kementerian Agama, dan “Islam Berkemajuan” atau “Dinul Hadlarah” yang menjadi konsep Muhammadiyah.

4. Relevansi dengan ideologi negara kita bagaimana, Pak Kiai? 
Islam Nusantara sejalan dengan Pancasila dan pilar Kebangsaan lainnya yakni UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Karena dari hasil kajian akademis pun menyimpulkan bahwa Pancasila digali dari nilai Islam dan nilai kearifan lokal. Ini menjadi kekhasan Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Pancasila bagi masyarakat Indonesia menjadi ideologi negara, falsafah hidup bangsa dan masyarakat Indonesia yang sejalan dan cocok dengan agama�agama yang diyakini oleh bangsa Indonesia. Walau Pancasila bukan Islam 
Nusantara, bukan pula khilafah islamiyah, tetapi Pancasila adalah ideologi �negara kita (NKRI), falsafah hidup babgsa Indonesia. Pancasila ini sangat cocok dan sesuai dengan agama Islam dengan mengangkat konsep Islam Wasathiyah, Islam Nusantara, Moderasi Beragama, atau Islam Berkemajuan. Silakan ormas Islam yang lainnya juga bisa membuat istilah lain. Yang penting sejalan dengan Pancasila sebagai pengejawantahan antara nilai agama (Islam) 
dengan nilai kearifan lokal, kearifan bangsa Indonesia yang telah digali dan diimplementasikan oleh Wali Songo dan dikembangkan oleh para ulama, termasuk ulama NU beserta warganya.

5. Apa Islam Nusantara ini juga yang bisa menjadi salah satu langkah mewujudkan konsep khairu ummah (umat yang baik)?
Ya. Inilah upaya NU, juga ormas Islam lain tentunya untuk mewujudkan pujian Tuhan kepada umat Nabi Muhammad SAW yaitu khairu ummah 
(masyarakat yang terbaik). Masyarakat idaman seperti ini memiliki tiga karakteristik. Pertama adalah masyarakat yang selalu menyuruh berbuat ma'ruf 
atau kebaikan yang bersifat peradaban, humanitis, harmoni, rukun, dan ukhuwah. Kedua, masyarakat yang mampu mencegah dari segala tindakan jahat atau munkar seperti membunuh, menghasut, mencaci, makar, tak setia NKRI, membuat kekacauan dan ancaman kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, serta kejahatan lainnya. Ketiga, masyarakat yang religius, masyarakat yang beriman, masyarakat yang berketuhanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 
Maka jadikanlah iman kepada Tuhan sebagai daya kekuatan yang memancar pada pribadi dan masyarakat. Menjadi amal saleh dan menghasilkan tindakan yang memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dalam hadits disebutkan khairun nas anfa'uhum lin nas. sebaik-baik umat manusia adalah 
yang mampu berbuat baik dan memberi manfaat bagi dirinya dan orang lain masyarakat, bangsa, dan negara. Inilah ciri utama umat Nabi Muhammad SAW yang digambarkan dalam QS Al Imran ayat 110 sebagai khairu ummah. 

Semoga umat Nabi Muhammad, umat Islam, dapat terus mewujudkan pujian Tuhan dengan selalu berbuat kebaikan, mencegah dari tindak kejahatan, dan selalu 
beriman kepada Allah yang diwujudkan dalam amal saleh.

Sumber : https://www.nu.or.id/post/read/114576/relasi-dakwah�islam-wali-songo-dengan-islam-nusantara
Repost : www.nu.or.id
Penulis :Tri Hariati N
Kontributor : Tim ElHida Press�

Sabtu, 08 Februari 2020

KISAH SYEIKH ABDUL QODIR AL - JAILANI



Syekh Abdul Qodir Al - Jailani

Lahir di Naif, Jailan, Iraq. Pada 1 Ramadhan 470H, memiliki ayah bernama Abi Salih Alsayid Musa Janki Dausat. 

Sebelum Syekh Abdul Qodir dilahirkan, ayah beliau berpesan "Bu, ketika nanti anak dalam kandunganmu itu lahir, jika aku tidak bisa menemanimu melahirkannya, maka aku ingin berpesan, jika anak itu laki-laki, maka berilah nama Abdul Qodir, tetapi jika dia perempuan, maka berilah nama sendiri." 
Lalu saat ayah memberikan kantong dengan berpesan "Ini adalah uang 40 dinar untuknya, untuk bekalnya ketika ia mencari ilmu kelak." Setelah itu, ayah beliau juga memberikan seekor anak kuda dan berpesan agar anak kuda tersebut dipakai untuk mencari ilmu. 
Lalu ia juga berpesan "Dan tolong jangan sampai ia berani berbohong atas apapun itu." Ketika ayahnya meninggal dunia, Abdul Qodir pun lahir. Saat beranjak besar, Abdul Qodir bermain selayaknya anak-anak pada umumnya. Suatu hari ia bermain di lapangan, karena ia paling kecil diantara teman-temannya, ia hanya menjaga baju dan sandal teman-temannya. Ketika di tengah-tengah hari, anak kudanya datang dan tiba-tiba berkata " Apa kamu hidup hanya untuk menjaga baju seperti ini? ", lalu Abdul Qodir menangis dan berlari pulang kerumahnya. 

Ketika tiba dirumah, ia ditanyai oleh ibunya. "Mengapa engkau menangis?, Siapa yang mengganggumu?" Abdul Qodir hanya menggeleng. Lalu sang ibu kembali bertanya "Apakah engkau lapar?" Abdul Qodir tetap menggeleng. Lalu sang ibu kembali bertanya "Lalu apa yang membuatmu menangis?" Abdul Qodir pun menjawab. "Anak kuda ini telah mengataiku, dia berkata apa hidupku hanya untuk menjaga baju saja?" Sang ibu pun terbingung, ia berfikir dan melihat anak kuda tersebut, lalu anak kuda itupun berkata "Iya benar, aku telah mengatainya". Sang ibupun masih kebingungan, ia pun bertanya " Sejak kapan engkau bisa berbicara? " Tanya Sang ibu kepada anak kuda tersebut. Dan anak kuda pun menjawab "Aku tidak tau, tiba-tiba saja aku bisa berbicara". 

Abdul Qodir pun berfikir keras apa yang harus ia lakukan. Lalu ia memutuskan untuk pergi mencari ilmu. Ibunya pun masih bingung, siapa yang akan mengantarkan nya? Dan anak kuda itupun kembali berkata jika ia yang akan mengantar abdul Qodir mencari ilmu. 
Sang ibu menyetujui keputusan Abdul Qodir, dan memberikan uang sebanyak 40 dinar yang telah diberikan  oleh ayahnya dulu. Dan Abdul Qodir pun pergi dengan seekor anak kuda tersebut untuk mencari tempat yang tepat untuk Abdul Qodir mencari ilmu. 
‌Ditengah perjalanan, ia bertemu dengan Nabiyullah Khidir AS. Dan beliau bertanya " Siapa kamu? " , "Abdul Qodir", nabi Khidir kembali bertanya, " Mau kemana kamu pergi? " Abdul Qodir pun menjawab, "Aku akan pergi mencari ilmu". Lalu ia diberi jalan petunjuk untuk ke Bagdad. 

‌Ditengah perjalanan menuju Bagdad, Abdul Qodir dihadang oleh 70 orang perampok, semua orang yang lewat telah rampok. Ketika perampok itu melihat abdul Qodir, Abdul Qodir ditanya "Mau kemana kau? " Tanya perampok kepada Abdul Qodir, Abdul Qodir menjawab "Saya ingin berangkat menuntut ilmu" Jawab Abdul Qodir. "Berarti engkau membawa uang? " Tanya perampok kembali. "Iya benar, aku membawa uang sebanyak 40 dinar" Jawab Abdul Qodir dengan santai dan memberikan kantong yang berisi uang tersebut kepada perampok. ‌Para perampok pun kebingungan dengan tingkah Abdul Qodir, lalu perampok itupun bertanya. "Mengapa engkau memberikan seluruh uangmu padaku? "Tanya sang perampok kebingungan. "Ayahku telah berwasiat kepada ibuku jika aku hidup tidak boleh berbohong, jadi jika aku ditanyai makan aku akan menjawab dengan jujur." Begitu abdul qodir berkata seperti itu, 40 perampok tersebut menangis, lalu mereka meminta maaf kepada setiap orang yang ia rampok dan mengembalikan barang yang telah dirampok. 
‌Setelah itu, seluruh perampok itupun ikut mengantarkan Abdul Qodir ke pesantren. Sesampainya di pesantren, seluruh orang yg ada di sana kebingungan melihat banyak preman yang ikut datang bersama Abdul Qodir. Salah satu orang disitu bertanya, "Untuk apa kalian berbondong-bondong kesini? " Salah satu premanpun menjawab, "Kami datang untuk mengantarkan Abdul Qodir menuntut ilmu.", " Siapa Abdul Qodir? Yang mana dia? " Tanya orang-orang kembali, lalu segerombolan preman itu menunjukkan Abdul Qodir. ‌"Lalu kalian untuk apa kesini? " Tanyanya lagi, "Kami disini untuk ikut Abdul Qodir menuntut ilmu" Para guru disitu kebingungan karena dipesantren tersebut hanya ada anak-anak saja, mereka bingung akan menempatkan segerombolan preman itu dimana. 

Lalu terjadilah rapat yang mencapai keputusan, para anak-anak akan diajari nahwu shorof, dan orang-orang dewasa akan diajari  thoriqoh. 
‌Belum lama Abdul Qodir menuntut ilmu dipesantren tersebut, nabi Khidir kembali datang menemui Abdul Qodir, "Engkau sudah menuntut ilmu disini? " Tanya Nabi Khidir kepada Abdul Qodir. Abdul Qodirpun menjawab, "Iya, aku sudah menuntut ilmu disini" Jawab Abdul Qodir kepada nabi Khidir. "Baiklah, kamu ada disini saja, duduklah disini" Ujar nabi Khidir, menyuruh Abdul Qodir duduk disebuah batu. Karena ketaatan Abdul Qodir, iapun duduk selama 1 tahun di atas batu tersebut tanpa diketahui oleh siapapun. Karena ketaatannya kepada guru, ia 1 tahun hanya duduk di atas batu. Lalu nabi Khidir datang kembali menemui Abdul Qodir. "Engkau masih duduk disini? " Tanya nabi Khidir. "Iya, aku telah duduk disini selama satu tahun seperti apa yang telah diperintahkan." Jawab Abdul Qodir. "Baiklah, kamu tetap disini saja dua tahun lagi". 
‌akhirnya Abdul Qodir duduk diatas batu selama tiga tahun tanpa ada siapapun yang tau. Setelah itu nabi Khidir menyuruh Abdul Qodir untuk meneruskan niatnya menuntut ilmu. Dan akhirnya Abdul Qodir menuntut ilmu selama 25 tahun.

Penulis : Silviyatul A
Kontributor : Tim Elhida Press

Pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Al-Hidayah

 http://gg.gg/ppdb-ppalhidayahkarangploso