http://gg.gg/ppdb-ppalhidayahkarangploso
PONDOK PESANTREN AL-HIDAYAH
Senin, 21 Juni 2021
Senin, 21 Desember 2020
Surat Cinta untuk Ibu
Surat Cinta untuk Ibu
Melalui mulut indahmu
Lengkung bibir mengartikan adanya perubahan
Diantara bentuk-bentuk pemandangan akan keikhlasanmu
Kedua aku mengeja arti
Dengan tubuhmu yang kian menua
Susah dan senang mengartikan adanya ensistensi kehidupan ini
Dari sekian hiruk pikuk ketelatenan pada dunia
Ketiga aku merangkai sajak
Untuk orang Yang membesarkan aku
Telah banyak aku memetik sejarah
Dari sebagian hidupmu
Keempat aku mulai belajar menghapus
Untuk segala kekuranganku padamu
Dan telah banyak kesusahan kutimpakkan padamu
Dengan balasan doa dirimu membalasku
Maafkanlah diriku ibu
Yang selalu merepotkanmu kala kecil hingga sebesar ini
Maafkanlah diriku abah
Yang selalu jengkel akan maksud baikmu padaku
Diri ini tak mampu tanpa adanya dirimu
Tak akan hidup tanpa adanya ikatan kasih sayangmu
Dan aku berdoa pada rabbku
"Ya tuhan..
Ampunilah dosa-dosa kedua orang tua hamba
Rahmatilah kedua orang tua hamba
Berkahilah mereka
Berikanlah surga untuk mereka
Ya tuhan
Aku bersujud padamu
Untuk meminta padamu
Agar kedua orang tuaku
Dalam lindunganmu
Ya tuhan..
Hanyalah kepadamu hamba memohon
Terimalah doa hamba
Kabulkanlah doa hamba"
Maafkanlah anakmu ini
Yang tak pernah memberimu kebahagian
Penulis : M.irfan
Senin, 28 September 2020
Kisah Burung Hijau dan Ikan Besar
Rezeki Allah .swt. Tidak Perlu Diragukan
(Kisah Burung Hijau dan Ikan Besar)
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَا مِنْ دَاۤ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَ يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)."
(QS. Hud 11: Ayat 6)
Dikisahkan bahwa Allah .swt. telah menciptakan burung berwarna hijau yang terbang di udara. Di atas punggung burung tersebut Allah menciptakan tombak, begitupun di bawah perut burung tersebut. Kemudian Allah juga menciptakan ikan besar di lautan.
Suatu ketika ikan besar tersebut sedang memakan ikan-ikan kecil, kemudian sisa daging ikan keci itu terselip di antara gigi ikan besar. Hal tersebut membuat ikan besar merasa kesakitan, maka dikeluarkanlah kepala ikan besar itu dari air laut dan ikan besar membuka mulutnya dengan lebar karena kesakitan yang dirasakan.
Tak lama kemudian, datanglah burung hijau dan masuk dalam mulut ikan besar. Burung tersebut memakan sisa makanan yang terselip di antara gigi-gigi ikan besar.
Namun, ikan besar itu tidak kuasa mengunyah dan memakan burung hijau yang berada di dalam mulutnya. Padahal si burung hanyalah mengganjal mulut ikan besar dengan kedua tombak yang Allah ciptakan di tubuhnya.
Setelah sisa makanan yang terselip di gigi ikan besar habis dimakan oleh burung hijau, burung itu kemudian terbang lagi ke udara.
Akhirnya, ikan besar tersebut kembali ke dalam air dan merasa lega dengan hilangnya rasa sakit tadi.
Seperti itulah kekuasaan Allah .swt. Sang Maha Pemberi Rezeki. Dihilangkan-Nya rasa sakit sebab sisa makanan yang terselip di gigi ikan besar dan diberi-Nya rezeki berupa makanan bagi burung hijau.
Jika rezeki bagi hewan saja Allah .swt. memberinya atas kekuasaan yang tak disangka, lantas bagi manusiapun pasti Allah .swt. tidak akan membiarkan tanpa rezeki.
"Setiap sesuatu menjadi sebab kepada seuatu yang lain".
Penulis : Dewinta Munasaroh
Sumber : Kitab Al-Mawa'idzul Ushrufiyyah (Pengajian Rutin oleh Ustadz Fathul Ulum. Jum'at, 25 September 2020)
Kontributor : Tim Elhida Santri
Jumat, 25 September 2020
Kisah Rabi'ah Al-Adawiyah
Kisah Rabi'ah Al-Adawiyah
Dihikayatkan bahwa setelah suaminya meninggal, beberapa pria datang melamar Rabi'ah Al-Adawiyah. Diantaranya adalah Hasan Al-Bashri, Malik bin Dinar, dan Tsabit Al-Bunani.
Ketika mereka datang untuk melamar, Rabi'ah berkata "Siapakah yang terpandai dan paling alim diantara kalian, akan aku terima sebagai suami". Maka ditunjuklah Hasan Al-Bashri sebagai pria yang memenuhi syarat itu.
Berkata Rabi'ah "Jika engkau dapat menjawab empat pertanyaan yang aku kemukakan ini, aku akan menjadi istrimu".
"Bertanyalah, semoga aku dapat menjawabnya" kata Hasan Al-Bashri.
Lalu bertanya Rabi'ah "Bila aku mati dan keluar dari dunia ini, adakah aku tetap beriman?" Hasan menjawab "Itu adalah sesuatu yang ghaib dan tiada seorang yang dapat mengetahui sesuatu yang ghaib kecuali Allah".
Bertanya lagi Rabi'ah "Bila aku telah diletakkan dalam kubur dan ditanya oleh malaikat Munkar Nakir, dapatkah kiranya aku menjawab pertanyaan itu dengan tepat?" Hasan Al-Bashri menjawab "Itu pula sesuatu yang ghaib dan hanya diketahui Allah".
Bertanya Rabi'ah "Bila orang-orang di hari kiamat telah berkumpul dan menerima catatan amalnya, dengan tangan kanan atau tangan kiri aku akan menerima catatan amalku?". "Itupun sesuatu yang ghaib pula" jawab Hasan Al-Bashri.
Kemudian pertanyaan Rabi'ah yang keempat "Jika dipanggil kelak di hari kiamat kelompok orang yang masuk surga dan yang masuk neraka, dari kelompok manakah aku ini?". "Itupun sesuatu ghaib yang hanya diketahui Allah" ujar Hasan Al-Bashri.
Lalu Rabi'ah Al-Adawiyah berkata "Wahai Hasan, barangsiapa memikirkan keempat perkara yang aku tanyakan tadi, tidaklah dapat memikirkan untuk berkawin".
Kemudian bertanya lagi Rabi'ah "Wahai Hasan! Dalam berapa bagiankah Allah menciptakan akal?". "Sepuluh bagian, sembilan untuk jenis pria dan satu untuk jenis wanita" jawab Hasan.
"Dalam berapa bagiankah Allah menciptakan syahwat?" tanya Rabi'ah. "Sepuluh bagian pula, sembilan bagian untuk jenis wanita dan satu bagian untuk jenis pria" jawab Hasan Al-Bashri.
Akhirnya berkata Rabi'ah "Wahai Hasan! Aku dapat menguasai sembilan bagian syahwat dengan satu bagian akal, sedangkan kamu tidak dapat menguasai satu bagian syahwat dengan sembilan bagian akal yang kamu miliki".
Kemudian keluarlah Hasan dari rumah Rabi'ah Al-Adawiyah dengan penuh kesedihan dan air mata yang bercucuran.
Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah untuk kita dan memudahkan kita dalam segala perkara, baik perkara dunia maupun perkara akhirat. Amin...
Sumber : Kitab Misykatul Anwar
Penulis : Rosi Nurfadilah
Kontributor : Tim Elhida Santri
Selasa, 22 September 2020
PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI
PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI
Diriwayatkan bahwa ketika Allah swt menciptakan langit dan bumi, terlebih dahulu sebuah permata hijau yang berlipat ganda berukuran lebih besar dari langit dan bumi. Dengan suatu pandangan dari Allah swt, menjelmalah permata itu menjadi air mendidih yang menimbulkan busa serta asap mengepul. Kemudian terciptalah langit dari asap itu dan bumi dari busa air yang mendidih.
Selanjutnya Allah swt mengutus Malaikat turun ke bumi sampai lapisan ke tujuh, disangganya bumi tujuh lapis itu diatas pundaknya seraya kedua tangannya terbuka memegang bumi agar tidak bergerak. Karena kedua kaki malaikat itu tidak berpijak, maka Allah menurunkan seekor kerbau yang mempunyai 70.000 tanduk dan 40.000 kaki sebagai pijakan bagi Malaikat tersebut.
Kedua kaki Malaikat itu tetap tidak dapat berpijak, maka diturunkanlah oleh Allah swt sebuah permata hijau dari tingkat surga tertinggi yang tebalnya sejauh perjalanan 500 tahun. Dan permata itu diletakkan diantara punggung dan ekor kerbau, barulah Malaikat itu dapat berpijak dengan tepat.
Tanduk kerbau itu keluar dari bumi, sedang badannya berada di dasar laut. Setiap hari kerbau itu bernafas dua kali, jika menarik nafas maka surutlah air laut dan jika membuang nafas maka pasanglah air laut. Karena tidak ada tempat berpijak untuk si kerbau, maka Allah swt menciptakan sebuah batu karang setebal tujuh lapis langit dan bumi. Untuk tempat batu karang itu Allah swt menciptakan seekor ikan besar bernama Nun, berjuluk “Yalhub” dan bergelar “Yahmut”.
Sumber : Kitab Durratun Nasihin
Penulis : Rosi Nurfadilah
Kontributor : Tim Elhida Santri
Kamis, 10 September 2020
WABAH PENYAKIT PADA ZAMAN KERAJAAN BLAMBANGAN
WABAH PENYAKIT PADA ZAMAN KERAJAAN BLAMBANGAN
Syaikh Maulana Ishaq adalah putra dari Syaikh Jumadil Kubro. Beliau lahir di Samarqand, Uzbekistan dan datang ke Jawa Timur pada tahun 1404 M. Suatu saat, kerajaan Blambangan yang diperintah seorang raja bernama Minak Sembuyu digegerkan oleh adanya wabah penyakit atau pagebluk. Banyak rakyat yang meninggal karena penyakit tersebut. Penyakit ini sangat berbahaya dan menular, karena banyak rakyat yang paginya sakit sore meninggal ataupun sebaliknya.
Tak terkecuali putri kesayangan Minak Sembuyu yang bernama Dewi Sekardadu, ia juga terkena wabah penyakit tersebut. Lalu Minak Sembuyu mengadakan saembara yang boleh diikuti oleh siapa saja. Barangsiapa yang bisa menghilangkan wabah penyakit itu dari daerah Blambangan, jika dia laki-laki maka akan dijadikan menantu dan jika dia perempuan maka akan dijadikan anaknya.
Akhirnya Syaikh Maulana Ishaq mengikuti saembara yang diadakan Minak Sembuyu. Beliau riyadoh di bukit Pecaron, tempat yang dulunya terpisah dari Pulau Jawa. Setelah riyadoh sekian lamanya, Maulana Ishaq berhasil memenangkan saembara. Beliau dinikahkan dengan putri Minak Sembuyu, Dewi Sekardadu. Dari pernikahan keduanya nanti akan melahirkan Sunan Giri yang biasa dikenal sebagai Raden Paku.
Kekuasaan daerah Blambangan diserahkan pada Maulana Ishaq oleh Minak Sembuyu. Luasnya daerah pemerintahan Maulana Ishaq menjadikan banyak orang yang merasa iri kepadanya. Banyak orang yang memiliki niat jahat kepada Maulana Ishaq, salah satunya adalah mertuanya sendiri, Minak Sembuyu.
Maulana Ishaq mengetahui rencana Minak Sembuyu yang ingin membunuhnya. Akhirnya, Maulana Ishaq berencana melarikan diri dari daerah Blambangan menuju Surabaya untuk berguru pada Raden Rahmad (Sunan Ampel). Ketika itu Dewi Sekardadu sedang mengandung 7 bulan. Beliau berpesan pada Dewi Sekardadu jika nanti anak yang diandungnya lahir, harus dihanyutkan ke laut. Dewi Sekardadupun mengiyakan perintah suaminya, meski dengan berat hati ia harus menghanyutkan buah hatinya ke laut.
Setelah bayinya lahir, Dewi Sekardadu lengsung melaksanakan perintah suaminya untuk menghanyutkan bayinya ke laut. Dengan dihanyutkan bayi Sunan Giri ke laut, ketika besar ia akan dikenal dengan julukan Joko Samudro. Karena saat bayi ia dihanyutkan di laut atau samudera. Setelah dihanyutkan, bayi Sunan Giri ditemukan oleh seorang wanita yang bernama Nyi Ageng Pinantih.
Penulis : Rifdah
Kontributor : Tim Elhida Santri
Sumber : Ngaji setiap hari Sabtu sore, dikisahkan oleh pengasuh Pondok Pesantren Al - Hidayah (Abah Muclas Ahmad Soleh)
Selasa, 08 September 2020
KISAH SEMBUHNYA NABI AIYUB DARI PENYAKIT KULIT
Melihat keadaan nabi aiyub yang diliputi kemewahan dunia serta ridho allah swt, iblis merasa iri hati. Iblis ingin merusak, mengganggu dan menghancurkan kebahagiaan tersebut. Ketika allah bertanya kepada iblis tentang pendapatnya mengenai nabi aiyub, iblis berkata: “ya tuhanku! Sesungguhnya aiyub tidak menyembah dan bertaat kepada-mu. Tetapi tetapi kepada dunia yang engkau karuniakan kepadanya.” Kemudian allah menjawab: “aku mengetahui bahwa aiyub taat kepadaku walaupun aku tak memberinya kemewahan duniawi.”
Kemudian iblis meminta izin kepada allah swt. untuk mengganggu ketaatan nabi aiyub. Dan allah member izin padanya. Cobaan pertama, bencana kebakaran besar yang membinasakan ternak dan harta nabi aiyub. Kemudian iblis berbisik mengganggu nabi aiyub berusaha menggoyahkan ketaatan beliau. Namun beliau bersabar dan tetap bersyukur kepada allah swt. cobaan kedua, tewasnya empat belas buah hati nabi aiyub tertimpa rumah. Dan iblis kembali membisikan godaan kepada nabi aiyub agar ketaatannya kepada allah tergoyahkan. Tapi masih tetap saja, nabi aiyub bersabar dan bersyukur atas nikmat yang masih ada.
Iblis masih tetap saja bersikeras menipiskan keimanan nabi aiyub, dengan meniupkan baksil penyakit dalam mulut dan hidung nabi aiyub dikala nabi aiyub bersujud. Akibatnya, seluruh tubuh nabi aiyub bengkak mengeluarkan banyak keringat.
Penyakit nabi aiyub menjadi makin parah, bisul cacar menjalari seluruh tubuhnya. Lama kelamaan penyakit itu mengeluarkan nanah dan ulat. Sehingga nabi aiyub dijauhi semua orang karena merasa jijik, begitupun dengan istri-istri beliau. Hanyalah rahmah, istri beliau yang setia menemani disiang dan malam. Hingga keduanya diusir dari perkampungan itu.
Setelah mengalami masa yang begitu sulit, rahma berkata kepada nabi aiyub: “wahai suamiku, cobalah engkau berdo’a memohon kepada allah agar penyakitmu segera sembuh”. Kemudian nabi aiyub berkata kepada istrinya: “kita telah mengalami dan merasakan kenikmatan selama 80 tahun, sedangkan kesengsaraan kita masih belum selama itu. Aku malu kepada allah seakan-akan kita kehilangan kesabaran.”
Namun pada akhirnya nabi aiyub memohon pertolongan pada allah swt. sebagaimana diceritakan dalam ayat:
“dan (ingatlah kisah) aiyub ketika menyeru tuhannya : “ya tuhanku. Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, danengkau adalah tuhan yang maha penyayang diantara semua penyayang.” Kamipun memperkenalkan seruannya, lalu kami lenyapkan penyalit dan kami kembalikan keluarganya kepadanya. Dan kami lipat gandakan bilangan mereka sebagai suatu rahmat dari sisi kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua menyembah allah swt.”
Diceritakan pula bahwa sebagai balasan do’a beliau, allah mengutus malaikat jibril dengan membawa dua buah delima sebagai obat dari penyakit beliau. Serta mandi dan minum dari air yang keluar dari tanah bekas kaki beliau. Maka sembulah nabi aiyub dari segala penyakitnya padatanggal 10 asyura. Kesehatannya menjadi lebih baik, wajahnya bersinar, dan dapat berkumpul lagi denga keluarganya.
Rasulullah saw bersabda:
“satu jam bersabar atas suatu musibah lebih baik dari ibadah satu tahun.”
Penulis : Rifdah
Kontributor : Tim Elhida Santri
Langganan:
Postingan (Atom)
Pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Al-Hidayah
http://gg.gg/ppdb-ppalhidayahkarangploso
-
KEJUJURAN Jujur adalah sifat terpuji yang selayaknya dimiliki oleh setiap manusia terlebih kamum santri. Jujur ibarat mutiara ...
-
_TIGA TOKOH LIRBOYO_ KH. ABDUL KARIM Beliau dilahirkan pada tahun 1856, di sebuah desa terpencil bernama Diyangan Kawedanan Mert...
-
ABDULLAH IBNU MUBARRAK DAN SEORANG MAJUSI Dikisahkan ketika musim haji, tatkala Abdullah ibnu Mubarrak sedang melaksanakan haji ...