Minggu, 29 Maret 2020

Kisah Uwais Al-Qarni (Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah)




Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang memiliki penyakit sopak. Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang. Walaupun cacat, tapi ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya, seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan. Suatu hari ibunya berkata “Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu.
Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan? Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu. Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. 
Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila... Uwais gila..” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais. Ya, banyak orang yang menganggap aneh apa yang dilakukannya tersebut. Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena sudah terbiasa latihan setiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa bebannya lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Sekarang orang-orang mengetahui apa yang dilakukan uwais setiap hari. Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya. Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah. Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya. Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah bisa melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan. Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.” Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. 

Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuknya Uwais tersebut? Ituah tanda untuk Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Rasulullah untuk mengenali Uwais. Beliau berdua sengaja mencari di sekitar Ka’bah. karena Rasulullah berpesan, “Di zaman kamu nanti, akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”

 “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR Bukhari dan Muslim)



Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/65059/kisah-uwais-al-qarni-pemuda-istimewa-di-mata-rasulullah


Penulis : Sylviyatul Aliyah
Editor Gambar : Alfi Nur A
Kontributor : Tim El-Hida Press

Sabtu, 21 Maret 2020

HABIB ZAIN MARTAPURA


Kisah Habib Zain Martapura kepada Habib Syekh

Pada suatu hari, Abah Guru Sekumpul Martapura bercerita kepada Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf.
“Ya habib, ulun (saya) mau menceritakan suatu kisah yang berjudul siapa yang dekat dia yang dapat.”
“Silahkan, Abah Guru.” jawab Habib Syech.

Kemudian Guru Sekumpul memulai kisahnya, bahwa di zaman Rasulullah ada 3 orang sedang berjalan di malam hari dalam keadaan lapar. Ketiga-tiganya lalu menemukan makanan satu piring dengan lauknya. Kemudian mereka bingung bagaimana bisa kenyang sementara yang ada hanya satu piring. 

Akhirnya, mereka bertiga membuat sayembara siapa yang mimpinya bagus malam ini maka satu piring itu miliknya.

Akhirnya mereka bertiga tidur di suatu tempat, yang satu tidur yang satu lagi tidur tetapi yang satu lagi tidak tidur karena lapar akhirnya membuka tutup piring itu dan dimakan sampai habis. Ketika menjelang pagi, mereka bertiga bangun.

Terdengar dari seorang temannya:
“Bangun bangun bangun… mari kita bercerita dulu engkau mimpi apa.”
“Aku bermimpi diajak jalan-jalan oleh Malaikat Jibril dari Mekkah menuju Madinah, indah sekali.”
“Aku bermimpi mi’raj ke langit ketujuh seperti Baginda Nabi, indah sekali.”
“Aku tidak mimpi apa-apa. Aku susah tidur karena lapar akhirnya aku makan satu piring itu.”

Mendengar jawaban yang terakhir ini, kedua temannya memperlihatkan wajah marahnya.
“Kenapa tidak kasih tahu kami berdua, kami juga lapar.” Keduanya berkata dengan nada marah. 

“Bagaimana aku kasih tahu kalian. Yang satu di atas langit, yang satu sedang jalan-jalan sama Malaikat ke Mekkah dan Madinah.”
Dia tahu, kedua temannya itu bermimpi bohong. Masa tidur langsung mimpi seperti itu.
Habib Syech ketawa saat itu.

Dari kisah ini, dimaksudkan oleh Guru Sekumpul bahwa siapa yang dekat dia yang dapat. Artinya siapa yang dekat dengan Allah dia yang dapat rahmat Allah. Wallahua’lam.. Alfatihah… 


Repost : Ala Nu
Penulis : Nila Andrias
Kontributor : Tim Elhida Press

Minggu, 15 Maret 2020

Kisah Mbah Sahlan Dan Santri Yang Taat



Kisah Mbah Sahlan Dan Santri Yang Taat

Suatu hari, ada santri baru yang ingin menimba ilmu pada Mbah Sahlan, ia bernama Jaelani. Jaelani pun sowan menghadap Mbah Sahlan, 
"Kyai saya ingin mondok". Lalu Mbah Sahlan menjawab "Kenapa gak pakai sandal?". Tanya Mbah Sahlan. 
"Saya tidak punya sandal,Kyai". Jawab jaelani. 
"Berarti kamu seperti ayam ya?". Tanya Mbah Sahlan kembali. 
"Iya kyai". Jawab Jaelani.
"Jika kamu ayam, berarti kamu gak boleh masuk masjid". Ujar Mbah Sahlan. 
"Iya kyai, tidak apa-apa". Jawab Jaelani sopan. 
"Berarti kamu juga tidak boleh masuk rumah saya, nanti rumah saya bisa kotor". Ujar Mbah Sahlan. 
"Iya Kyai". Jawab jaelani. 
"Kamu juga jangan tidur di kamar, kamar kan untuk santri, kalo kamu masuk kamar nanti bisa kotor". Ujar Mbah Sahlan mencoba menguji ketaatan Jaelani.
"Enggeh Kyai. Kalo saya tidak boleh tidur di kamar, saya bisa tidur dimana Kyai?". Tanya Jaelani dengan sopan. "Kamu kan ayam, jadi nanti saya sediakan tempat untukmu". Jawab Mbah Sahlan. 
Lalu Jaelani mematuhi apa yang telah dikatakan oleh Mbah sahlan, ia tetap berada di pangkringan (tempat bertengger ayam terbuat dari bambu), tempat yang disediakan oleh Mbah Sahlan. Setiap hari ia bertengger di situ dengan diikat. Ia mematuhi apa yang dikatakan oleh Mbah Sahlan. Seperti, tidak boleh masuk masjid, tidak boleh tidur di kamar, tidak boleh ke rumahnya Kyai, dan sebagainya. 

Suatu hari, ada beberapa santri lain yang kesal karena selalu melihat jaelani tetap berada di pangkringan, dan tidak pernah mengikuti kegiatan apapun. Hingga mereka lapor kepada Mbah Sahlan. 
"Kyai, Jaelani itu tidak pernah mengikuti sholat". Ujar salah satu santri.
"Iya Kyai, kalo malampun ia juga tidak pernah tidur dikamar". Sahut santri yang lain. 
Mbah sahlan menyimak apa yang dikatakan santri-santrinya. "Apa benar begitu?" Tanya Mbah Sahlan. 
"Iya kyai benar, dia selalu berada diatas bambu itu Kyai, dan badannya ditali". Ujar salah santri. 
"Yaudah baik kalo begitu, kalian lihat dan awasi Jaelani, nanti ia akan kemana dan apa yang ia lakukan". Ujar Mbah Sahlan. 
"Baik Kyai". Jawab santri serentak. 
Hingga sampai waktu maghrib, santri yang berjumlah kurang lebih 4-5anak tersebut, mengawasi Jaelani tak mau luput dari pandangan.
"Awasi dia, jangan sampai luput, kalau bisa jangan kedip". Ujar salah satu santri. Hingga Jaelani berjalan dengan cepat kearah laut. Seluruh santripun juga mengikuti Jaelani dengan cepat. Mereka terkejut, karena mendapati Jaelani yang dapat berjalan ke tengah laut. Mereka melihat Jaelani sedang sholat berjama'ah dengan banyak orang di tengah laut. 
Hingga Jaelani selesai melaksanakan sholat dan dzikir. Lalu ia pun kembali berjalan dengan cepat, yang diikuti oleh santri lainnya. 

Sesampainya di pondok, para santri kembali lapor kepada Mbah Sahlan. 
"Kyai, ternyata Jaelani sholat berjamaah dengan orang banyak ditengah laut". Lapor santri. 
"Berarti Jaelani sholat? Sudah kalian pastikan?". Tanya Mbah Sahlan. 
"Iya Kyai benar, tadi Jaelani sudah kami ikuti, ternyata ia sholat berjamaah di tengah laut dengan orang banyak. Dan semua jama'ah itu mengenakan pakaian serba putih.  Pas ketika adzan isya' kami sampai di sini Kyai". Ujar salah satu santri melapor. 
"Berarti Jaelani sholat maghrib kan?". Tanya mbah sahlan. 
"Iya Kyai, Jaelani sholat maghrib". Jawab santri dengan yakin. 
"Lalu bagaimana dengan kalian? Apakah kalian telah melaksanakan sholat maghrib?" Tanya Mbah Sahlan memastikan. 
Hening yang terjadi, hanya suara jangkrik yang terdengar, hingga ada salah satu santri bersuara. "Belum kyai". Jawab seorang santri. 
"Berarti yang tidak sholat kan kalian bukan Jaelani". Ujar Mbah Sahlan menjelaskan. 
" Iya Kyai". Jawab para santri serentak. 
"Makanya, jangan suka sembarangan nuduh, kalo ginikan jadi kalian yang tidak sholat maghrib." Ujar Mbah Sahlan menasihati. 

Dari kisah ini, dapat dipetik hikmah bahwa, kita jangan sembarangan nuduh orang lain tanpa tau sebab, alasan,  dan kenyataan yang ada. Karena bagaimanapun, kita juga harus saling menghargai dan menghormati orang lain.


Allah SWT berfirman:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ  ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا  ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ  ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ  ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيم

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)

Penulis : Silvyatul A
Editor Gambar : Alfi Nur A
Kontributor : Tim El-Hida Press

Sabtu, 14 Maret 2020

SALMAN AL - FARISI



Kisah Salman Al - Farisi

Salaman al-farisi adalah seorang sahabat dari bangsa persis. Salman memiliki ayah seorang yang menyembah api, Salman dipercaya oleh ayahnya untuk menjaga api yang disembahnya. 

Suatu hari, Salman al-farisi diminta ayahnya untuk pergi ke tanah miliknya, karena Salman yang begitu penurut, ia menuruti permintaan ayahnya tersebut. Ketika diperjalanan, ia melihat keramaian umat nasrani sedang menjalankan ibadahnya, ia tertarik dengan cara ibadah mereka. Lalu ia mendatangi gereja tersebut dan tertarik atas agama nasrani itu. 
Salman al-farisi mengikuti seorang pendeta digereja tersebut, tidak berjalan lama, pendeta yang diikuti Salman al-farisi ingin menjemput ajalnya, lalu Salman meminta wasiat kepada pendeta tersebut. Dari pendeta itu, ia bertanya 'siapa yang akan ia ikuti setelah pendeta itu tiada', lalu pendeta itu menyuruh salman mengikuti pendeta yang lain. Lalu hal sama pun terjadi kepada pendeta-pendeta yang diikutinya. 
Hingga suatu saat, Salman al-farisi diminta untuk mengikuti seorang pengusaha kurma dan membantunya, hingga ajal pun menjemput pengusaha kurma tersebut. Sama seperti sebelum sebelumnya, Salman kembali bertanya tentang siapa yang akan ikuti setelah sepeninggalnya, tetapi kali ini jawaban berbeda "Aku tidak mengerti siapa orang yang se keyakinan dengan kita. tetapi yang aku ketahui, akan ada seorang nabi yang agamanya sama dengan Ibrahim yang hidup pada matamu".

Setelah itu, salman menjual harta bendanya dan membawa seekor unta untuk mencari nabi yang dimaksud. Ia membawa segenap hartanya untuk mencari nabi. Ditengah perjalanan nya, ia dirampok dan semua hartanya lenyap. Dan setelah itu Salman menjadi budak seorang Yahudi. Karena Salman sosok yang tampan dan gagah, Salman dijual dengan harga yang mahal, dari satu tuan ke tuan yang lain. 
‌Hingga suatu hari Salman bertemu dengan nabi Muhammad SAW, ia memberi. apa yang ia simpan sebagai sedekah. Salman pun menyerahkan nga kepada nabi Muhammad. Rasulullah menyuruh para sahabatnya untuk makanannya, tetapi Rasulullah tidak ikut serta memakannya. 

‌Lalu Salman mendatangi Rasulullah untuk kedua kalinya. ia membawakan hadiahnya untuk Rasulullah, dan ia menceritakan kepada nabi, bahwa ia tidak melihat Rasulullah ikut memakan apa yang dijadikannya sedekah. Lalu ia memberikan hadiahnya dan diterima oleh Rasulullah. Rasulullah memakannya, dan mengajak sahabat yang lainnya mengikutinya. Dari situ Salman telah menemukan dia tanda kenabiannya. 
‌pada pertemuan ketiga, Salman datang ke pemakaman salah satu sahabat. Saat itu Salman menyapanya dengan sapaan islam "Assalamu'alaikum " Kemudian berputar kebelakang untuk mencari keberadaan stempel yang hanya dimiliki Rasulullah
‌ketika nabi melihatnya, ia tahu bahwa Salman sedang mencari keberadaan sempelnya. Lalu, Rasulullah menunjukkan sempelnya kepada Salman, dan akhirnya dadi situ Salman yakin atas kenabian Muhammad SAW. 
‌setelah itu, Salman mengikuti Rasulullah, ia berkata pada Rasulullah "apa yang bisa kulakukan untukmu? ", lalu Rasulullah menjawab" Lakukan apa yang bisa kamu lakukan". Dan akhirnya Salman mencangkok pohon kurma hingga menghasilkan kurma yang sangat baik sampai saat ini. Kurma yang disebut kurma ajwa yang paling baik kualitasnya, dan paling banyak kandungannya. 

Senin, 24 februari 2020

Penulis : Silvyatul A
Kontributor : Tim El - Hida Press

Sabtu, 07 Maret 2020

TIGA TOKOH LIRBOYO


_TIGA TOKOH LIRBOYO_

KH. ABDUL KARIM
Beliau dilahirkan pada tahun 1856, di sebuah desa terpencil bernama Diyangan Kawedanan Mertoyudan Magelang Jawa Tengah. Nama kecil beliau adalah Manab, beliau putra ketiga dari empat bersaudara, dari pasangan Kyai Abdur Rahim dan Nyai Salamah. Pada saat Manab kecil berusia 14 tahun, mulailah beliau melakukan pencarian ilmu agama, daerah pertama yang beliau tuju adalah desa Babadan Gurah Kediri, lantas beliau meneruskan pengembaraannya di daerah Cepoko, 20 km arah selatan Nganjuk, beliau menuntut ilmu kurang lebih selama 6 Tahun. Selanjutnya pindah lagi ke Pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono Nganjuk Jatim, disinilah beliau memperdalam pengkajian ilmu Al-Quran, beberapa tahun kemudian beliau teruskan pengembaraannya dalam tholabul ilmi di Pesantren Sono sebelah timur Sidoarjo, sebuah pesantren yang terkenal dengan ilmu Shorofnya, tujuh tahun lamanya beliau menuntut ilmu di Pesantren ini. periodenya selanjutnya beliau meneruskan nyantri di Pondok Pesantren Kedungdoro Sepanjang Surabaya, hingga akhirnya beliau meneruskan pengembaraan ilmunya di salah satu pesantren besar di pulau Madura yang diasuh oleh seorang Ulama’ Kharismatik bernama, Syaikhona Kholil Bangkalan. Cukup lama beliau menuntut ilmu dimadura yakni sekitar 23 tahun, begitu lamanya beliau menuntut ilmu sehingga menjadikan kemampuan beliau menjadi sangat terasah dan mumpuni.

Pada saat berusia 40 tahun, KH. Abdul Karim meneruskan pencarian ilmunya di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang Jatim, yang diasuh oleh sahabat karibnya semasa di Bangkalan Madura, KH. Hasyim Asy’ari. Hingga pada suatu ketika KH. Hasyim asy’ari menjodohkan KH. Abdul Karim dengan putri Kyai Sholeh dari Banjarmlati Kediri, akhirnya pada tahun1328 H/ 1908 M, KH. Abdul Karim menikah dengan Siti Khodijah Binti KH. Sholeh, yang kemudian dikenal dengan nama Nyai Dlomroh, dua tahun kemudian KH. Abdul karim bersama istri tercinta hijrah ketempat baru, disebuah desa terpencil yang bernama Lirboyo tepatnya pada tahun 1910 M, disinilah titik awal tumbuhnya Pondok Pesantren Lirboyo. Kemudian pada tahun 1913, KH. Abdul karim mendirikan sebuah Masjid ditengah-tengah komplek pondok, sebagai sarana ibadah dan sarana ta’lim wa taalum bagi santri. Secara garis besar Pribadi KH. Abdul karim adalah sosok yang sangat sederhana dan bersahaja, beliau gemar melakukan Riyadlah mengolah jiwa atau Tirakat, sehingga hari-hari beliau hanyalah berisi pengajian dan tirakat saja. Pada tahun 1950-an, tatkala KH. Abdul Karim menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya setelah beliau melaksanakan ibadah haji pada tahun 1920-an, kondisi kesehatan beliau sebenarnya sudah tidak memungkinkan, namun karena keteguhan hati akhirnya keluarga mengikhlaskan kepergiannya untuk menunaikan ibadah haji, dengan ditemani sahabat akrabnya KH. Hasyim Asy’ari dan seorang dermawan asal Madiun H. Khozin.

Sosok KH. Abdul Karim adalah sosok yang sangat istiqomah dan berdisiplin dalam beribadah, bahkan dalam segala kondisi apapun dan keadaan bagaimanapun, hal ini terbukti tatkala beliau menderita sakit, beliau masih saja istiqomah untuk memberikan pengajian dan memimpin sholat berjamaah, meski harus dipapah oleh para santri. Mendung kedukaan menggelayut menaungi Lirboyo, Kepada Allah lah, sejatinya semua mahluk akan kembali, pada tahun 1954, tepatnya hari senin tanggal 21 Ramadhan 1374 H, KH. Abdul Karim berpulang kerahmatullah, beliau dimakamkan di belakang masjid Lirboyo.

KH. MARZUQI DAHLAN
Beliau lahir pada tahun 1906, di Desa Banjarmlati sebuah desa kecil di tepi sungai brantas Kota Kediri, beliau putra bungsu dari empat bersaudara, dari pasangan KH. Dahlan dan Nyai Artimah. Dibawah pengawasan langsung kakeknya KH. Sholeh Gus Zuqi kecil menerima pengajaran dasar-dasar islam seperti aqidah dan fiqh ubudiyah, tatkala menginjak usia remaja, ayahnya Kyai Dahlan meminta agar Gus Zuqi kembali ke kampung halamannya Pondok Pesantren Jampes, untuk menuntut ilmu dibawah asuhan ayah kandungnya sendiri, Gus Zuqi bersedia namun beberapa saat kemudian Gus Zuqi justru kembali ke Banjarmlati untuk menuntut ilmu disana, ketika Gus Zuqi beranjak muda, beliau pindah menuntut ilmu Di Lirboyo dibawah asuhan pamannya KH. Abdul Karim. Disinilah kemampuan berpikir Gus Zuqi semakin terasah, sehingga dalam waktu yang singkat beliau dapat memperoleh ilmu, dibawah pengawasan langsung KH. Abdul Karim. Usai menuntut ilmu di Lirboyo, Gus Zuqi meneruskan pengembaraannya di pelbagai Pondok Pesantren diantaranya Pondok Pesantren Tebu Ireng asuhan Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, Pondok Pesantren Mojosari Nganjuk, Pondok Pesantren Bendo Pare asuhan Kyai Khozin, cukup lama beliau mondok di Pare hingga beliau berumur 20-an tahun, selanjutnya beliau kembali ke kampung halamannya Jampes untuk belajar langsung ke kakaknya yakni KH. Ihsan Al-Jampasy, pengarang kitab Monumental Shirojut Tholibin dan sosok yang menguasai bidang Tashawuf.

Pada tahun 1936, KH. Marzuqi Dahlan menikah dengan Nyai Maryam binti KH Abdul Karim, namun meski telah menikah, semangat beliau dalam mengaji tidak pernah luntur sedikitpun, hal ini merupakan salah satu amanat yang telah disampaikan oleh KH Abdul karim pada KH. Marzuqi Dahlan sesaat usai aqad nikah berlangsung, sehingga himmah beliau untuk terus mendidik santri terus terjaga dan sangat istiqomah. Hingga pada tahun 1961 tahun Nyai Maryam berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan beliau untuk selama-lamannya. Namun untuk menghapus kedukaan yang berlarut-larut, akhirnya keluarga menikahkan KH. Marzuqi Dahlan dengan Nyai Qomariyah yang tak lain adalah adik bungsu Nyai Maryam. Sosok KH. Marzuqi Dahlan adalah sosok sederhana dan sangat bersahaja hal ini terbukti dari penampilan beliau sehari-hari yang jauh dari kesan mewan dan elegan, padahal pada saat itu beliau sudah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, hari-hari beliau hanyalah ditemani sepeda onthel usang sebagai pengantar ketika berziarah kemaqam Auila’ disekitar Kediri, bukan hanya kendaraan kediaman beliaupun terbilang sangat sederhana, yakni berdindingkan anyaman bambu, hingga pada tahun 1942 barulah keiaman beliau beganti dengan tembok.

Pada Tahun 1973 M. KH. Marzuqi Dahlan menunaikan Ibadah haji, dua tahun usai menunaikan ibadah haji, kondisi beliau mulai terganggu, hal ini bisa dimaklumi karena usia beliau yang sudah sepuh, namun meski demikian semangat beliau untuk memimipin Pesanten Lirboyo tetap terjaga, hingga pada bulan syawal pada tahun 1975, beliau jatuh sakit sehingga harus dirawat di RS. Bayangkara kediri hingga 2 minggu lamanya beliau harus dirawat. Karena tidak ada perubahan yang menggembirakan, akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa pulang KH. Marzuqi Dahlan ke kediaman beliau, hingga pada hari Senin Tanggal 18 Nopember 1975 beliau dipanggil sang pencipta, dihadapan keluarga dan para santri yang sangat mencintainya.

KH. MAHRUS ALY
Beliau lahir pada tahun 1906 di dusun Gedongan kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon Jawa Barat, ayah beliau KH Aly bin Abdul Aziz dan ibu beliau Hasinah binti Kyai Sa’id, KH. Mahrus Aly adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara. Masa kecil beliau dikenal dengan nama Rusydi, masa kecil beliau lebih banyak dijalani di tanah kelahirannya, sifat kepemimpinan beliau sudah nampak pada saat masih kecil, hingga beranjak remaja, sehari-hari beliau menuntut ilmu di surau pesantren milik keluarganya, disinilah beliau diasuh oleh ayahnya sendiri KH Aly dan kakak Kandungnya Kyai Afifi. Pada saat beliau berusia 18 tahun, beliau melanjutkan pencarian ilmunya di Pesantren Panggung Tegal, asuhan Kyai Mukhlas Kakak iparnya sendiri, disinilah kegemaran belajar ilmu Nahwu KH. Mahrus Aly semakin teruji dan mumpuni, selain itu KH. Mahrus Aly juga belajar silat pada Kyai Balya seorang jawara pencak silat asal Tegal Gubug Cirebon. Pada saat monok di tegal inilah KH. Mahrus Aly menunaikan ibadah haji pada tahun 1927, selanjutnya KH. Mahrus Aly meneruskan pencarian ilmunya di Pesantren Kasingan Rembang Jawa Tengah yang diasuh KH. Kholil, setelah 5 tahun menuntut ilmu dipesantren ini atau sekitar tahun 1936 KH. Mahrus Aly berpindah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, karena sudah punya bekal ilmu yang mumpuni sehingga KH. Mahrus Aly tinggal mempedalam dan tabaruqan saja, bahkan beliau diangkat menjadi Pengurus Pondok. Selama nyantri di Lirboyo beliau dikenal sebagai satri yang tak pernah letih mengaji, jika waktu libur tiba maka akan beliau gunakan untuk tabaruqan dan mengaji di Pesantren lain, seperti Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, asuhan KH. Hasyim Asy’ari. PP. Watu congol muntilan Magelang, asuhan Kyai Dalhar. Juga pondok pesantren Langitan tuban, Sarang dan Lasem Rembang.

Sebenarnya KH. Mahrus Aly mondok di Lirboyo tidaklah lama, hanya sekitar tiga tahun saja, namun karena kealimannya membuat KH. Abdul Karim menjadi jatuh hati, dan menjodohkannya dengan salah seorang putrinya yang bernama Zaenab. Tepatnya pada tahun 1938. kemudian pada tahun 1944 KH. Abdul karim mengutus KH. Mahrus Aly untuk membangun kediaman disebelah timur Komplek Pondok. Sepeninggal KH. Abdul Karim, KH. Mahrus Aly bersama KH. Marzuqi Dahlan meneruskan estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, ditangan mereka berdualah kemajuan pesat dicapai oleh Pondok Pesantren Lirboyo, banyak santri yang berduyun-duyun untuk menuntut ilmu dan mengharapkan barokah dari KH. Marzuqi dahlan dan KH. Mahrus Aly, bahkan ditangan KH. Mahrus Aly lah, pada tahun 1966 lahir sebuah perguruan tinggi yang bernama IAIT (Institut Agama Islam Tribakti), peran serta KH. Mahrus Aly dalam usaha membangkitkan kemerdekaan juga tidak bisa diremehkan, hal ini disebabkan peran beliau dalam mengirimkan 97 santri pilihan dari pondok pesantren Lirboyo untuk menumpas sekutu di Surabaya, yang belakangan ini dikenal dengan peristiwa 10 November, hal ini juga yang menjadi embrio berdirinya Kodam V Brawijaya. Selain itu KH. Mahrus Aly juga berkiprah dalam penumpasan PKI di daerah kediri dan juga mempunyai andil yang besar dalam perkembangan Jamiyyah Nahdlotul Ulama’, bahkan beliau diangkat menjadi Rois Syuriyah Jawa trimur selama hampir 27 Tahun, hingga akhirnya diangkat menjadi anggota Mutasyar PBNU pada tahun 1985

Duka menggelayut Pondok Pesantren Lirboyo tepatnya pada hari senin tanggal 04 Maret 1985, sang istri tercinta Ibu Nyai Hj. Zaenab berpulang kerahmatullah karena sakit Tumor kandungan yang telah lama nyai derita. Sejak saat itulah kesehatan KH. Mahrus Aly mulai terganggu, bahkan banyak yang tidak tega melihat KH. Mahrus Aly terus menerus larut dalam kedukaan, hingga banyak yang menyarankan agar KH. Mahrus Aly menikah lagi supaya ada yang mengurus beliau, namun dengan sopan beliau menolaknya. Hingga puncaknya yakni pada sabtu sore pada tanggal 18 mei 1985 kesehatan beliau benar-benar terganggu, bahkan setelah opname selama 4 hari di RS Bayangkara Kediri akhirnya beliau dirujuk ke RS Dr. Soetomo Surabaya dengan menggunakan Helikopter atas perintah Pangab LB. Moerdani, manusia berusaha namun Allah Jualah yang menentukan, meskipun pelbagai upaya medis paling canggih sekalipun telah diupayakan oleh tim dokter yang terbaik di RS Dr. Soetomo surabaya, akhirnya KH. Mahrus Aly berpulang kerahmatullah, tepatnya pada Hari Ahad malam Senin Tanggal 06 Ramadlan 1405 H/ 26 Mei 1985, tepat delapan hari setelah beliau dirawat di surabaya. Berita meninggalnya KH. Mahrus Aly membuat duka yang sangat mendalam bagi keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo, karena mereka semua telah kehilangan panutan yang selama ini mereka idolakan dan mereka bangga-bangakan. Beliau wafat diusia 78 tahun.

Baca kisah lengkap, biografi Masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo, di buku 3 Tokoh Lirboyo dan buku Sejarah Lirboyo

#santri_lirboyo

Pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Al-Hidayah

 http://gg.gg/ppdb-ppalhidayahkarangploso