Sabtu, 30 November 2019

Biografi gus Zura


                       M.ASYAUQIR RIDLO
Lahir pada tanggal 5 juli 1999,putra ketiga dari Abah Muchlas Ahmad Sholeh.

Beliau mengenyam pendidikan pesantren sejak tahum 2011 di pondok pesantren Bumi Damai Al Muhibbin Tambak Beras Jombang. Lulus tahun 2018 bersama lulus study di sekolah Muallimin Muallimat Bahrul Ulum dengan predikat memuaskan.
Dan sekarang meneruskan jenjang study di Universitas negeri islam Malang dengan jurusan pendidikan bahasa Inggris.

Beliau aktif di berbagai organisasi, antara lain:
1. Redaktur karisma 2015
2. Redaktur Tasamuh 2015-2016
3. Redaktur Ibbien post 2015-2016
4. Sc kharisma 2017
5. Administrator website humapon 2018

Ig:@zuramaruz_


Kontributor : Tim Elhida Press
Penulis : Nila Andrias A
Dirangkum dari sisi kehidupan Gus Zura

SODAQOH


SHODAQOH
Shodaqoh memiliki arti yaitu sebuah pemberian seorang muslim kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas (tanpa pamrih balasan), tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Shodaqoh tidak hanya berupa harta saja, amal baik juga termasuk dalam kategori shodaqoh, seperti tersenyum kepada sesama muslim lainnya. 

Macam-macam shodaqoh ada dua yaitu:

1).Shodaqoh Siri atau disebut dengan sedekah samar
     yaitu sedekah yg dirahasiakan, seseorang yang melakukan  sedekah seperti ini bisa terlihat dengan cara pemberian yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tidak diketahui orang lain. Dalam kata lain ialah identitas si pemberi tidak diketahui orang lain, bahkan si penerima sendiri tidak mengetahuinya dari siapa shodaqoh ini berasal.

2).Shodaqoh Jali atau disebut dengan sedekah secara terang-terangan
     yaitu sedekah yg diakadkan. Seperti membayar denda dan nadzar. Bentuk sedekah seperti ini bermacam-macam. Hanya saja berbeda dengan poin pertama yaitu shodaqoh sirri. Shodaqoh jali, orang yang memberikan bertatap muka langsung dengan si penerima atau melalui perantara dengan menunjukkan identitas pemberi.

Diantara dua macam shodaqoh diatas, yang lebih utama ialah Shodaqoh Sirri. Karena secara jelas si pemberi tidak ingin diketahui sehingga potensi dan kesempatan ikhlas lebih terbuka lebar. Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan Nabi Muhammad SAW; “Jika engkau memberi dengan tangan kanan, jangan sampai tangan kirimu mengetahuinya”. Dalam hadist ini dapat diambil sebuah kesimpulan yakni, pentingnya bersedekah dengan ikhlas dan tanpa mengharapkan balasan apapun, bahkan hanya untuk sekedar diketahui identitasnya.

Diantara keistimewaan shodaqoh adalah dapat mencegah dari bala' atau bencana. Bencana menurut Abah Muchlas (sesuai hadits yang termaktub dalam bab ini) datang ketika pagi hari, maka hal yang dapat mencegah bencana yang akan ditimpakan pada hari itu ialah dengan bersedekah. Seperti halnya pula saat kita sedang ditimpa sebuah mimpi buruk, selain memohon perlindungan dari Allah hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan bersedekah dengan harapan bahwa mimpi buruk tersebut tidak sampai terjadi. Dan jika boleh diibaratkan, maka shodaqoh itu laksana tanaman bayam, jika dipetik maka akan semakin banyak berbunga (ruas-ruasnya atau batang tumbuhannya akan semakin bermunculan). Oleh karena itu, kita oleh Allah dianjurkan untuk sering melakukan sedekah, dikarenakan banyaknya keistimewaan yang terkandung didalamnya. 

Selain shodaqoh, hal patut pula diperhatikan ialah adab kita terhadap pemberian orang lain. Kita boleh menerima pemberian entah berupa hibbah atau sedekah yang diberikan seseorang terhadap kita. Namun, kita tidak boleh berharap untuk diberi. Karena berharap atas pemberian orang lain merupakan sebuah kehinaan, terlebih dengan cara meimnta-minta. Naudzubillah…

Kontributor : Tim Elhida Press
Penulis : Sylviyatul Aliyyah
Di rangkum pada pengajian sabtu sore
Oleh KH. Muchlas Ismail
Pada Bab Shodaqoh

Sabtu, 23 November 2019

DOA

Adab Berdoa

يا عَلي, لا تجهر بقراءتك ولا دعائك حيث يصلي الناس؛ فإن ذلك يفسد صلاتهم

“wahai Ali, janganlah engkau mengeraskan bacaan Alquran dan doamu disamping orang-orang yang sedang sholat, karena hal tersebut dapat merusak (kehusyuan) sholat mereka”

Doa merupakan ruh ibadah. Dengan doa, merupakan sebuah pernyataan kehambaan diri dan butuh kepada Allah SWT. Doa pula merupakan washilah bathiniyyah hamba dengan Tuhannya. Karena doa adalah suatu hal yang penting dan sakral. Maka dalam kitab wasiyatul musthofa dijelaskan beberapa adab berdoa, diantaranya:
1. Membuka dada
    Maksudnya adalah melebarkan dada dengan menjadikan tubuh tegak tanpa membusungkan kedepan.
2. Menelentangkan kedua telapak tangan sebatas dada
     Batasan ini tidak boleh melebihi diatas kepala.
3. Berisyaroh dengan telunjuk kanan saat berdoa

Selain tiga perkara diatas, adab berdoa yang tak kalah pentingnya adalah, merasa hina dan butuh pada rahmat Allah. Serta pada saat berdoa tidak sampai mengganggu orang lain terlebih ketika orang sholat. Dalam hadist berikutnya jelas dipaparkan bahwa, kita dilarang berdoa dengan suara yang keras pada saat seseorang lain sedang melakukan sholat. Hal ini dilarang oleh Rosul dikarenakan dikhawatirkan mengganggu kekhusyukan orang yang sholat tersebut. Kemudian dijelaskan pula oleh Abah Muchlas, bahwa doa yang ampuh (dalam hal kekhusyukan dan berdialog dengan Allah) meliputi lima unsur. Hal ini beliau utarakan dengan bahasa jawa, yaitu:

a.  Merem
      Hal yang dimaksud disini adalah, saat kita berdoa mata dalam keadaan terpejam. Hal ini melatih diri untuk dapat lebih khusyuk ketika berdoa. Serta pikiran dan hati fokus pada Sang Penguasa Jagad.
b.  Meneng
     Adalah posisi tubuh dalam keadaan diam dan tenang. 
c.  Mingkem
      Maksudnya adalah bibir terkatup. Sehingga hanya hati yang berdialog dengan Allah.
d.  Dingkluk
      Yang dimaksud dingkluk disini adalah. Memposisikan leher atau kepala sedikit merunduk kebawah. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kehambaan dan kerendah hatian kita saat berdoa. Tidak dengan mendongakkan kepala.
e.  Jalok marang Gusti
      Kemudian hal yang terakhir dilakukan adalah berdoa kepada Allah dengan menggunakan hati dan fikiran. Sembari mengagungkan Allah SWT.

Kemudian beliau menjelaskan tentang istighfar, dimana istigfar disini secara garis besar juga merupakan bagian dari doa kepada Allah dengan bentuk meminta ampunan atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Secara lebih rinci kata istighfar terbagi menjadi dua kata, dimana dua kata tersebut sering digunakan dalam lafadz dzikir ataupun doa. Yaitu:
- Kata غفر
Kata ghafara disini memiliki arti secara bahasa yaitu, menutup. Sedangkan secara makna ialah menutup aib, dosa, dan kesalahan. Oleh karena itu lafadz istighfar yang berakar kata ghafara ini secara maksud maknanya yaitu memohon kepada Allah supaya dosa, kesalahan, dan aib yang telah dilakukan oleh hamba ditutupi oleh Allah.
- Kata عفو
Kata afwun dalam hal ini secara bahasa ialah menghapus. Sedangkan makna dari kata ini ialah memohon kepada Allah agar dosa, kesalahan, dan aib si pendoa dihapus dan diampuni oleh Allah.

Dari beberapa pengertian asal kata istighfar diatas dapat diambil kesimpulan bahwa, kita sebagai manusia hendaknya selalu memohon ampun kepada Allah. Karena sudah barang tentu manusia memiliki dosa dan kesalahan, sehingga andai kata diistilahkan dapat diambil sebuah kata; seumpama sedikit saja manusia dibuka aibnya oleh Allah, maka niscaya tidak akan (tampak) ada orang yang sanggup menjadi pemimpin, karena tidak ada yang bisa lepas dari aib dan kesalahan. Oleh karena itu kita oleh Allah dianjurkan dan diperintahkan untuk senantiasa meminta ampun dan maaf kepada Allah atas segala amal yang telah diperbuat.

Amal, selain dengan cara berdoa dan istighfar masih banyak lagi macamnya. Namun, menurut beliau amal yang terbaik ialah amal yang dikerjakan secara terus-menerus yang dalam Islam dikenal dengan Istiqomah. Karena terdapat beberapa kaidah tentang keistimewaan istiqomah, diantaranya:

▪ الإستقامةمن علامةالكرامة
“istiqomah merupakan salah satu tanda dari karomah”
Dalam hal ini, dapat diartikan bahwa salah satu tanda seorang wali ialah memiliki keistiqomahan yang selalu dilakukan tanpa putus.
▪ الإستقامة اولى من الكرامة
“istiqomah lebih utama dari karomah”
Yang dimaksud disini adalah tidak mungkin seseorang mendapatkan sebuah karomah, jika ia tidak memiliki keistiqomahan. Karena sejatinya satu istiqomah lebih mulia dari seribu karomah.

Sebagai penutup, kami sampaikan sebuah kaidah “Jangan melakukan sebuah perkara yang dapat mengganggu atau merugikan orang lain” meskipun hal tersebut baik manurut kacamata manusia. Contohnya doa dan membaca Alquran. Dari keterangan diawal tadi dijelaskan bahwa seseorang tidak boleh mengeraskan suara bacaan doanya bila terdapat orang sholat karena khawatir mengganggu kekhusyuan. Begitu pula dengan membaca Alquran, tidak boleh sampai mengganggu orang yang sedang sholat. Apalagi melakukan hal yang buruk, seperti bergurau.
Inti dari keterangan tersebut adalah, bagaimana kita pandai-pandai bersikap sehingga tidak sampai merugikan atau bahkan melukai perasaan orang lain.

Kontributor : Tim Elhida Press
Penulis : Yazid Bustomi
Dirangkum pada pengajian rutin sabtu sore
Oleh KH.Muchlas Ismail
Kitab wasiyatul mustofa bab doa halaman 11

TAUBAT


                                    Taubat

Allah, dalam hadist qudsi-Nya berfirman bahwa siapapun yang bertaubat pada Allah dengan mengharap rahmat-Nya. Maka dosa sebesar apapun pasti di maafkan dan diampuni oleh Allah,  hingga bila diibaratkan bahwa dosanya memenuhi alam semesta, dapat diterima permintaan maafnya oleh Allah. Dengan cara bertaubat dan mengharapkan rahmat serta maghfirah dariNya kecuali musyrik. Namun itupun tetap dapat diampuni oleh Allah selagi ruhnya belum sampai tenggorakan. 

Dalam hal ini, Kyai Muchlas mencontohkan sebuah cerita bahwasanya dahulu ada seseorang yang memiliki kegemaran membunuh orang lain. Hingga pada hitungan 98 orang yang telah dibunuh, ia berniat sowan kepada salah seorang kyai dengan tujuan menanyakan perihal perbuatannya apakah masih dapat diampuni Allah atau tidak. Kemudian sang kyai pun berpendapat bahwa dosanya terlalu besar sehingga ia tidak dapat diampuni Allah sekalipun meminta maaf dan bertaubat. Karena marah mendengarkan penuturan kyai tersebut maka, kyai tersebut dibunuh juga oleh seseorang itu. Hingga genaplah hitungan 99 korban yang telah terbunuh ditangannya. Lalu, ia mencari kyai lain untuk menyakan persoalan yang sama. Kali ini jawaban kyai tersebut berbeda. Beliau berpendapat bahwa ia bisa diampuni oleh Allah dengan cara bertaubat, menyesal, dan tidak akan mengulangi dosa tersebut. Akhirnya seseorang tersebut bertaubat dengan dibimbing oleh sang Kyai. Kisah ini menunjukkan bahwa pengampunan Allah akan selalu terbuka bagi hambanya selama ia mau bertaubat.

Lebih lanjut beliau menjelaskan beberapa syarat taubat, yaitu:
1). Merasa menyesal
    Sesorang yang hendak bertaubat harus memiliki rasa menyesal karena telah melakukan dosa. Sehingga hati orang tersebut benar-benar tergerak untuk melakukan taubat kepada Allah.
2). Berhenti dari perbuatan dosa
      Dosa apapun yang telah dilakukan, harus dihentikan tidak diulangi kembali. 
3). Bertekad kuat untuk tidak mengulangi
      Orang yang melakukan taubat harus memiliki tekad kuat untuk tidak melakukan perbuatan dosa lagi. Karena dengan adanya tekad yang kuat tersebut diharapakan orang yang bertaubat dapat kokoh dari segala godaan yang membuat ia melakukan perbuatan dosa, atau mengulangi perbuatan yang telah dilakukan.
4). Memohon ampun kepada Allah
      Pada intinya, Allah mensyaratkan bertaubat ialah taubat yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha). Bukan hanya sekedar taubat yang sekiranya orang tersebut dapat mengulanginya kembali. Dalam hal ini Allah bukan hanya menilai taubat kita, melainkan usaha dan upaya dalam proses perbaikan diri setelah bertaubat.

Akhir kata, semoga kita ditakdirkan oleh Allah menjadi orang yang ahli bertaubat dan dijauhkan dari maksiat. Amin…

Penulis: Yazid Bustomi
Kontributor: Tim Elhida Press
Diintisarikan dari pengajian Arbain An-Nawawi Bab Taubat oleh KH. Muchlas Ismail

Cara Pandang Seorang Muslim Terhadap Urusan Dunia

CARA PANDANG SEORANG MUSLIM TERHADAP URUSAN DUNIA

قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ صلّى اللّه عليه وسلّم اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Dari Abū Hurairah  ia berkata, Rasūlullāh  bersabda, “Lihatlah kepada yang di bawah kalian dan janganlah kalian melihat yang di atas kalian, sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kalian.”

Dalam hadis diatas mengandung beberapa makna:

1). Dalam urusan dunia, kita dianjurkan oleh Rosulullah melihat orang yang dibawah kita.
Hal ini memiliki tujuan diantaranya:
 a. Agar kita lebih dapat banyak bersyukur akan nikmat yang telah Allah berikan.
 b. Agar hati kita senantiasa merasa cukup dengan apa yang kita punya.
 c. Agar hati kita tenang dan tentram.
 d. Agar hati kita tidak rakus terhadap dunia, lebih-lebih milik orang lain.

2). Dalam urusan ilmu, melihat orang diatas kita yang jauh lebih alim.
Hal ini pula memiliki makna dan tujuan, diantaranya:
 a. Agar supaya kita dapat terpacu semngatnya dalam mencari ilmu.
 b. Agar kita dapat menanamkan rasa cinta kepada ulama.

Sebaliknya, jika kita melihat dunia dengan kacamata orang yang jauh diatas kita. Dapat menyebabkan hati kita rakus kepada dunia dan menimbulkan sifat susah dan iri.

Terlepas dari penjelasan diatas, Kyai Muchlas menambahkan keistimewaan melakukan sesuatu dengan diawali membaca Basmalah. Beliau menceritakan sebuah kisah. Bahwa ada seorang santri yang diberi amalan oleh sang guru, amalan tersebut berupa membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak-banyaknya dalam waktu tertentu. Karena perintah guru tersebut yang dianggap terlalu banyak dan melebihi batas orang umum. Si murid mengerjakan amalan tersebut sebanyak mungkin, akan tetapi tidak diawali dengan Basmalah. Dengan tujuan segera menyelesaikan amalan tersebut. Namun saat dimalam hari ketika si murid tersebut tidur, ia bermimpi dan mendengar sebuah hatif (suara tanpa rupa). Hatif tersebut menegur si murid karena melakukan amalan tanpa mendahulukan dengan membaca Basmalah. Sehingga si murid tersentak bangun dan mengulangi amalan tersebut. kali ini si murid membaca Basmalah di setiap akan memulai membaca Surat Al-Ikhlas perintah gurunya tersebut.

Lebih lanjut Kyai Muchlas Memberikan keterangan, bahwa dengan mebaca Basmalah setiap melakukan apapun dapat memberi 2 poin, yaitu:
- Menambah porsi pahala atas amal yang  dijalankan.
- Membantu meringankan sesorang dalam melakukan hal tersebut (perbuatan yang dilakukan).


Kontributor : Tim Elhida Press
Penulis : Yazid Bustomi
Di Intisarikan pada pengajian KH. Muchlas Ismail
Hari Selasa Tanggal 19 November 2019

Jumat, 22 November 2019

Hukum Mencintai Saudara Sesama Muslim

Hukum Mencintai Saudara Sesama Muslim

Dalam hadis riwayat Syaikhoni yakni hadis yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim dijelaskan:

عَنْ النَّبِي قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Yang artinya: tidak sempurna iman sesorang sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.
Hadis ini menerangkan bahwa kita sesama muslim haruslah saling menghormati dan menghargai sesame saudara seiman dan seislam. Ukuran seseorang berlaku atau berbuat kepada orang lain ialah diukur dari dirinya sendiri. Jika ia suka untuk dikasihi maka seyogyanya ia juga harus mengasihi orang lain. Jika ia tidak ingin di cela maka begitu pula kepada orang lain, ia tidak boleh mencela. Dari hal tersebut di harapkan terciptanya saling toleransi dan menghargai sesame agama bahkan secara lebih luas adalah dalam kawasan antar umat beragama.

Selain hal tersebut diatas, seorang yang beragama seharusnya dapat menjaga hak dan kewajiban antar sesame manusia. Hal itu telah dicontohkan oleh Rosul ketika, seperti contoh menjenguk tetangganya yang sedang sakit. Sedang orang tersebut adalah orang kafir namun Rosul tidak membedakannya. Hal ini sebagai suri tauladan bagi kita untuk saling peduli sesame tetangga.

Lebih jauh, Kyai Muchlas menjelaskan ada 6 hak kita kepada sesama umat beragama, yaitu:
1. Mengucapkan salam bila bertemu.
2. Segera memenuhi panggilan bila dipanggil.
3. Memberi nasihat bila dimintai nasihat.
4. Mendoakan ketika bersin yang diiringi dengan ucapan hamdalah.
5. Menjenguk ketika sakit.
6. Mengiringi jenazah hingga pemakaman.

Kunci dari hadis ini adalah kita dilatih dan dianjurkan oleh Rosullullah untuk memiliki kepekaan terhadap sesama.

Kontributor : Tim Elhida Press
Penulis : Yazid Bustomi
Di intisarikan dari Pengajian KH. Muchlas Ismail
Hari Selasa Tanggal 12 November 2019

Sabtu, 16 November 2019

Do'a Antara Adzan dan Iqomah

DOA MUSTAJAB
Antara adzan dan iqomah, dalam pengajian rutin sabtu sore oleh Abah Muchlas pengasuh Ponpes Alhidayah Karangploso. Merupakan salah satu waktu dimana doa seorang hamba tidak akan ditolak oleh Allah, dalam artian langsung diterima. Akan tetapi tetap harus memperhatikan syarat dan rukun doa.
Beliau menuturkan bahwa ada 3 kategori doa yang mustajabah, diantaranya:

1. Disebabkan oleh tempatnya.
Dalam hal ini, beliau mencontohkan Masjidil Haram. Dimana orang muslim yang berdoa ditanah tersebut doanya pasti mustajabah. Kemudian dicontohkan 
lagi seperti makam para wali songo. Seperti makam Sunan Giri. Beliau menceritakan; bahwa dulu pada saat Sunan Giri (biasa disebut Joko Samudro atau Raden Paku), para santri yang masih mondok ditempat beliau 
kebingungan dikarenakan akan adanya penyerangan para penjajah untuk menghancurkan pondok milik Sunan Giri. Disebabkan oleh saking takutnya para santri atas penyerangan tersebut, saat para pasukan penjajah sudah mendekati area pondok. Maka para santri memanggil-manggil nama Sunan Giri (layaknya memminta bantuan kepada Allah melalui perantara beliau). Kemudian tanpa diduga keluar segerombolan lebah dari arah makam Sunan Giri, dan kemudian menyerang para penjajah sehingga mereka menjadi babak belur sampai lari tunggang langgang tak berani melanjutkan niat mereka semula.

2. Disebabkan oleh waktunya.
Pada penjelasan ini, waktu antara adzan dan iqomah salah satu contohnya. Doa apapun menurut beliau boleh untuk dipanjatkan selain doa setelah adzan. 
Karena pada waktu tersebut memiliki kekuatan atau daya ampuh dimana doa seorang hamba dapat terkabul.

3. Disebabkan oleh orangnya.
Maksudnya doa tersebut tidak bakal ditolak oleh Allah ada sebelas golongan diantaranya adalah doa orang tua pada anaknya, doa anak yang sholeh, doa orang yang teraniaya dan doa orang yang baru pulang menunaikan ibadah umroh atau haji. Orang yang baru pulang menunaikan ziaroh Makkah dan Madinah sesampainya dirumah selama 40 hari doanya maqbul. Salah satu alasannya adalah orang tersebut terlingkupi oleh para Malaikat yang jumlahnya 40 Malaikat, yang bertugas mengamini doa orang tersebut. 
Terlepas dari penjelasan diatas beliau menambahkan bahwa seyogyanya bagi para santri haruslah kuat tirakat ketika sedang berada di pesantren. Karena 
berkah dari tirakat yang dilakukan akan dituai dikemudian hari. 
Beliau bertutur salah satu tanda santri dulu ialah suka melakukan puasa, minimal puasa senin kamis. Maka beliau pun menganjurkan para santri untuk melakukan tirakat sehingga para santri kelak dapat memanen hasil daritirakatnya. Bila tidak didunia, kelak besok diakhirat.


Penulis : Yazid Bustomi
Kontributor : Tim Elhida Press
Di intisarikan dari pengajian kitab wasiatul mustofa 
hal. 13 bab doa - oleh KH. Muchlas

Sabtu, 09 November 2019

Kisah Nabi Muhammad Part 1



Nabi Muhammad pertama kali diangkat menjadi rasul pada malam hari tanggal 17 ramadhan/ 6 agustus 611M. Ia mendapatkan wahyu pertama di gua hira'. Sebelum mendapat wahyu, adapula orang² yg mengetahui kerasulan nya, yaitu. 

1. Khadijah 
merupakan isteri pertama Nabi Muhammad. Nama lengkapnya adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Khadijah al-Kubra, anak perempuan dari Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Za'idah, berasal dari kabilah Bani Asad dari suku Quraisy. Ia merupakan wanita as-Sabiqun al-Awwalun. 
Sebelum ia menjadi istri dari Muhammad, ia adalah seorang janda kaya quraisy. Ketika itu, ia penasaran dengan seorang Muhammad, ia menyuruh budaknya untuk senantiasa mengikuti Muhammad. 
Setelah mendengar cerita dari sang budak, ia semakin penasaran dengan Muhammad. Sebab Khadijah bukanlah wanita biasa, ia adalah seorang yang cerdas, ia telah membaca kitab Injil dan memahami makna didalamnya. Yang dikatakan didalamnya bahwa akan ada seseorang yang akan menjadi nabi akhir zaman, pemimpin dari para nabi dan rasul. ia menyangka bahwa Muhammad adalah orangnya. Lalu ia berniat melamar dan menjadikan Muhammad suami. 

Di usia 14 pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khatijah, Nabi Muhammad SAW sering menyendiri dan berkhalwat di goa Hira, yaitu goa yang berada di bukit Nur (jabal Nur) yang terletak di dekat Makkah. Berkhalwat ini dilakukan Nabi Muhammad SAW dengan khusuk, kadang sampai beberapa hari baru pulang jika bekal sudah habis. Di sanalah, beliau menghabiskan waktu selama berhari-hari dan bermalam-malam. Pada malam bertepatan dengan malam Jum’at tanggal 17 Ramadhan, yaitu ketika beliau sedang bertafakur di dalam goa Hira dan telah berusia empat puluh tahun, beliau didatangi malaikat Jibril yang seraya berkata kepadanya: “Bacalah!”, beliau menjawab: “Saya tidak bisa membaca”. Jibril mengulangi perintah ini untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya. Dan pada yang ketiga kalinya, Jibril berkata kepadanya Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah;  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah;Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam;  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Al ‘Alaq : 1 – 5)

Setelah itu, Jibrilpun meninggalkannya, dan Rasulullah sudah tidak kuat lagi berada di goa Hira’. Akhirnya beliau pulang ke rumahnya dan menghampiri Khadijah dengan gemetar sambil berkata: “Selimuti saya!, selimuti saya!”, maka Khadijah pun menyelimutinya, sehingga rasa takutnya sirna. Lalu memberitahu Khadijah tentang apa yang telah diperolehnya dan berkata: “Sungguh saya khawatir terhadap diriku”. Khadijah menanggapinya dan menenangkan serta meyakinkan Nabi Muhammad SAW: “Sekali-kali tidak, demi Allah, Dia tidak akan merendahkan dirimu untuk selamanya, karena sesungguhnya engkau adalah orang yang menyambungkan tali persaudaraan, menanggung beban kesusahan orang lain, memberi orang yang tak punya, menjamu tamu, dan menolong orang yang menegakkan kebenaran”. Lalu Khadijah berkata kepada Muhammad "ketika nanti seorang itu datang, maka panggilah aku".
Lalu suara itu kembali terdengar "Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah.’ (Al-Mudatsir: 1-5)."

Ketika Khadijah mengetahui hal tersebut, Khadijah mencoba mengujinya dengan mengangkat roknya hingga paha, ia melihat reaksi apa yg akan terjadi, ternyata malaikat Jibril langsung hilang, dan dari situ Khadijah tau bahwa itu malaikat Jibril, dan ini adalah awal dari kerasulan nya Muhammad. 
Ayat tersebut merupakan permualaan dari masa kerasulan beliau SAW. Datang setelah masa kenabian yang berjarak rentang masa vakum turunnya wahyu. Ayat-ayat tersebut mengandung dua jenis taklif beserta penjelasan dan konsekuensinya.

2. Waraqah bin naufal
Waraqah bin Naufal  adalah satu di antara orang-orang yang pertama kali membenarkan tentang kerasulan Muhammad SAW. 

Waraqah, seorang Nasrani yang merupakan sepupu tertua dari jalur ayah Khadijah tak sedikitpun ragu ketika mendapatkan kabar tentang kerasulan Nabi. Dia meyakini Muhammad adalah utusan Allah SW yang terakhir seperti tertulis dalam Injil. 
Setelah mendengarkan peristiwa yang dialami Nabi, Khadijah mengajak suaminya menemui putra pamannya yakni Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul 'Uzza yang menulis kitab Injil dalam bahasa Ibrani. 
Setelah nabi bertemu dengan Waraqah, nabi pun menceritakan kembali tentang peristiwa yang dialaminya. Waraqah pun meyakini dan membenarkan kerasulan Nabi dan menyatakan apa yang dialami Nabi Muhammad sama seperti yang telah diturunkan Allah kepada Nabi Musa. 

Waraqah menjelaskan pada Nabi bahwa Nabi Muhammad akan disakiti dan diusir kaumnya. "Ini adalah Namus, seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu. 
Seandainya aku ada saat itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekemampuanku," kata Waraqah. 
Namun Waraqah tak mengalami masa-masa yang telah diucapkannya di mana kaum kafir Quraisy menyakiti Nabi setelah mendapatkan wahyu. Sebab Waraqah terlebih dulu meninggal dunia.   

3. Pendeta Buhaira
Ketika Muhammad berusia 12 tahun, abu Thalib sangat paman hendak berniaga ke Syam. Abu Thalib tdk tega meninggalkan Muhammad dimakkah seorang diri, akhirnya ia mengajak Muhammad ikut bersamanya. 
Hingga akhirnya, kafilah itu tiba di sebuah tempat pertapaan di Bushra, antara Syam dan Hijaz. Di sana mereka bertemu dengan seorang rahib bernama Buhaira. Sang rahib takjub menyaksikan anak laki-laki yang bernama Muhammad itu.
Betapa tidak, awan selalu bergerak memayungi ke mana pun Muhammad kecil melangkah. Sang rahib pun segera menghampiri calon nabi dan rasul terakhir itu. Buhaira memeriksa sekujur tubuh Muhammad untuk melihat tanda-tanda kenabian yang diterangkan dalam kitab-kitab suci terdahulu.
 Ia akhirnya menemukan tanda kenabian itu di punggung Muhammad, di antara kedua pundaknya, lalu ia mencium tanda itu. Lalu ia bertanya kepada abu Thalib "siapakah anak ini? " Abu Thalib  menjawab, "anakku". Lalu ia bertbertanya kembali pada abu Thalib, " Siapakah anak ini?" Abu Thalib pun menjawab, "anakku".
Ia masih ragu dengan jawaban abu Thalib, karena yang ia ketahui dalam kitab Injil diceritakan bahwa utusan yang terakhir adalah seorang yatim piatu. Lalu ia kembali bertanya " Siapakah anak ini? " Seperti sebelumnya, abu Thalib menjawab"anakku" Lalu ia hanya berpesan kepada abu Thalib, "jaga anak ini baik-baik".

Itulah sedikit kisah orang-orang yang pertama kali mengetahui kerasulan Muhammad. 


Penulis : Sylviatul Aliyyah
Kontributor : Tim Elhida_Press
Sumber : Ngaji rutin sabtu pagi, Gus Hasib Ismaili
Sabtu, 30 November 2019

Pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Al-Hidayah

 http://gg.gg/ppdb-ppalhidayahkarangploso