Syekh Abdul Qodir Al - Jailani
Lahir di Naif, Jailan, Iraq. Pada 1 Ramadhan 470H, memiliki ayah bernama Abi Salih Alsayid Musa Janki Dausat.
Sebelum Syekh Abdul Qodir dilahirkan, ayah beliau berpesan "Bu, ketika nanti anak dalam kandunganmu itu lahir, jika aku tidak bisa menemanimu melahirkannya, maka aku ingin berpesan, jika anak itu laki-laki, maka berilah nama Abdul Qodir, tetapi jika dia perempuan, maka berilah nama sendiri."
Lalu saat ayah memberikan kantong dengan berpesan "Ini adalah uang 40 dinar untuknya, untuk bekalnya ketika ia mencari ilmu kelak." Setelah itu, ayah beliau juga memberikan seekor anak kuda dan berpesan agar anak kuda tersebut dipakai untuk mencari ilmu.
Lalu ia juga berpesan "Dan tolong jangan sampai ia berani berbohong atas apapun itu." Ketika ayahnya meninggal dunia, Abdul Qodir pun lahir. Saat beranjak besar, Abdul Qodir bermain selayaknya anak-anak pada umumnya. Suatu hari ia bermain di lapangan, karena ia paling kecil diantara teman-temannya, ia hanya menjaga baju dan sandal teman-temannya. Ketika di tengah-tengah hari, anak kudanya datang dan tiba-tiba berkata " Apa kamu hidup hanya untuk menjaga baju seperti ini? ", lalu Abdul Qodir menangis dan berlari pulang kerumahnya.
Ketika tiba dirumah, ia ditanyai oleh ibunya. "Mengapa engkau menangis?, Siapa yang mengganggumu?" Abdul Qodir hanya menggeleng. Lalu sang ibu kembali bertanya "Apakah engkau lapar?" Abdul Qodir tetap menggeleng. Lalu sang ibu kembali bertanya "Lalu apa yang membuatmu menangis?" Abdul Qodir pun menjawab. "Anak kuda ini telah mengataiku, dia berkata apa hidupku hanya untuk menjaga baju saja?" Sang ibu pun terbingung, ia berfikir dan melihat anak kuda tersebut, lalu anak kuda itupun berkata "Iya benar, aku telah mengatainya". Sang ibupun masih kebingungan, ia pun bertanya " Sejak kapan engkau bisa berbicara? " Tanya Sang ibu kepada anak kuda tersebut. Dan anak kuda pun menjawab "Aku tidak tau, tiba-tiba saja aku bisa berbicara".
Abdul Qodir pun berfikir keras apa yang harus ia lakukan. Lalu ia memutuskan untuk pergi mencari ilmu. Ibunya pun masih bingung, siapa yang akan mengantarkan nya? Dan anak kuda itupun kembali berkata jika ia yang akan mengantar abdul Qodir mencari ilmu.
Sang ibu menyetujui keputusan Abdul Qodir, dan memberikan uang sebanyak 40 dinar yang telah diberikan oleh ayahnya dulu. Dan Abdul Qodir pun pergi dengan seekor anak kuda tersebut untuk mencari tempat yang tepat untuk Abdul Qodir mencari ilmu.
Ditengah perjalanan, ia bertemu dengan Nabiyullah Khidir AS. Dan beliau bertanya " Siapa kamu? " , "Abdul Qodir", nabi Khidir kembali bertanya, " Mau kemana kamu pergi? " Abdul Qodir pun menjawab, "Aku akan pergi mencari ilmu". Lalu ia diberi jalan petunjuk untuk ke Bagdad.
Ditengah perjalanan menuju Bagdad, Abdul Qodir dihadang oleh 70 orang perampok, semua orang yang lewat telah rampok. Ketika perampok itu melihat abdul Qodir, Abdul Qodir ditanya "Mau kemana kau? " Tanya perampok kepada Abdul Qodir, Abdul Qodir menjawab "Saya ingin berangkat menuntut ilmu" Jawab Abdul Qodir. "Berarti engkau membawa uang? " Tanya perampok kembali. "Iya benar, aku membawa uang sebanyak 40 dinar" Jawab Abdul Qodir dengan santai dan memberikan kantong yang berisi uang tersebut kepada perampok. Para perampok pun kebingungan dengan tingkah Abdul Qodir, lalu perampok itupun bertanya. "Mengapa engkau memberikan seluruh uangmu padaku? "Tanya sang perampok kebingungan. "Ayahku telah berwasiat kepada ibuku jika aku hidup tidak boleh berbohong, jadi jika aku ditanyai makan aku akan menjawab dengan jujur." Begitu abdul qodir berkata seperti itu, 40 perampok tersebut menangis, lalu mereka meminta maaf kepada setiap orang yang ia rampok dan mengembalikan barang yang telah dirampok.
Setelah itu, seluruh perampok itupun ikut mengantarkan Abdul Qodir ke pesantren. Sesampainya di pesantren, seluruh orang yg ada di sana kebingungan melihat banyak preman yang ikut datang bersama Abdul Qodir. Salah satu orang disitu bertanya, "Untuk apa kalian berbondong-bondong kesini? " Salah satu premanpun menjawab, "Kami datang untuk mengantarkan Abdul Qodir menuntut ilmu.", " Siapa Abdul Qodir? Yang mana dia? " Tanya orang-orang kembali, lalu segerombolan preman itu menunjukkan Abdul Qodir. "Lalu kalian untuk apa kesini? " Tanyanya lagi, "Kami disini untuk ikut Abdul Qodir menuntut ilmu" Para guru disitu kebingungan karena dipesantren tersebut hanya ada anak-anak saja, mereka bingung akan menempatkan segerombolan preman itu dimana.
Lalu terjadilah rapat yang mencapai keputusan, para anak-anak akan diajari nahwu shorof, dan orang-orang dewasa akan diajari thoriqoh.
Belum lama Abdul Qodir menuntut ilmu dipesantren tersebut, nabi Khidir kembali datang menemui Abdul Qodir, "Engkau sudah menuntut ilmu disini? " Tanya Nabi Khidir kepada Abdul Qodir. Abdul Qodirpun menjawab, "Iya, aku sudah menuntut ilmu disini" Jawab Abdul Qodir kepada nabi Khidir. "Baiklah, kamu ada disini saja, duduklah disini" Ujar nabi Khidir, menyuruh Abdul Qodir duduk disebuah batu. Karena ketaatan Abdul Qodir, iapun duduk selama 1 tahun di atas batu tersebut tanpa diketahui oleh siapapun. Karena ketaatannya kepada guru, ia 1 tahun hanya duduk di atas batu. Lalu nabi Khidir datang kembali menemui Abdul Qodir. "Engkau masih duduk disini? " Tanya nabi Khidir. "Iya, aku telah duduk disini selama satu tahun seperti apa yang telah diperintahkan." Jawab Abdul Qodir. "Baiklah, kamu tetap disini saja dua tahun lagi".
akhirnya Abdul Qodir duduk diatas batu selama tiga tahun tanpa ada siapapun yang tau. Setelah itu nabi Khidir menyuruh Abdul Qodir untuk meneruskan niatnya menuntut ilmu. Dan akhirnya Abdul Qodir menuntut ilmu selama 25 tahun.
Penulis : Silviyatul A
Kontributor : Tim Elhida Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar