Kisah Mbah Sahlan Dan Santri Yang Taat
Suatu hari, ada santri baru yang ingin menimba ilmu pada Mbah Sahlan, ia bernama Jaelani. Jaelani pun sowan menghadap Mbah Sahlan,
"Kyai saya ingin mondok". Lalu Mbah Sahlan menjawab "Kenapa gak pakai sandal?". Tanya Mbah Sahlan.
"Saya tidak punya sandal,Kyai". Jawab jaelani.
"Berarti kamu seperti ayam ya?". Tanya Mbah Sahlan kembali.
"Iya kyai". Jawab Jaelani.
"Jika kamu ayam, berarti kamu gak boleh masuk masjid". Ujar Mbah Sahlan.
"Iya kyai, tidak apa-apa". Jawab Jaelani sopan.
"Berarti kamu juga tidak boleh masuk rumah saya, nanti rumah saya bisa kotor". Ujar Mbah Sahlan.
"Iya Kyai". Jawab jaelani.
"Kamu juga jangan tidur di kamar, kamar kan untuk santri, kalo kamu masuk kamar nanti bisa kotor". Ujar Mbah Sahlan mencoba menguji ketaatan Jaelani.
"Enggeh Kyai. Kalo saya tidak boleh tidur di kamar, saya bisa tidur dimana Kyai?". Tanya Jaelani dengan sopan. "Kamu kan ayam, jadi nanti saya sediakan tempat untukmu". Jawab Mbah Sahlan.
Lalu Jaelani mematuhi apa yang telah dikatakan oleh Mbah sahlan, ia tetap berada di pangkringan (tempat bertengger ayam terbuat dari bambu), tempat yang disediakan oleh Mbah Sahlan. Setiap hari ia bertengger di situ dengan diikat. Ia mematuhi apa yang dikatakan oleh Mbah Sahlan. Seperti, tidak boleh masuk masjid, tidak boleh tidur di kamar, tidak boleh ke rumahnya Kyai, dan sebagainya.
Suatu hari, ada beberapa santri lain yang kesal karena selalu melihat jaelani tetap berada di pangkringan, dan tidak pernah mengikuti kegiatan apapun. Hingga mereka lapor kepada Mbah Sahlan.
"Kyai, Jaelani itu tidak pernah mengikuti sholat". Ujar salah satu santri.
"Iya Kyai, kalo malampun ia juga tidak pernah tidur dikamar". Sahut santri yang lain.
Mbah sahlan menyimak apa yang dikatakan santri-santrinya. "Apa benar begitu?" Tanya Mbah Sahlan.
"Iya kyai benar, dia selalu berada diatas bambu itu Kyai, dan badannya ditali". Ujar salah santri.
"Yaudah baik kalo begitu, kalian lihat dan awasi Jaelani, nanti ia akan kemana dan apa yang ia lakukan". Ujar Mbah Sahlan.
"Baik Kyai". Jawab santri serentak.
Hingga sampai waktu maghrib, santri yang berjumlah kurang lebih 4-5anak tersebut, mengawasi Jaelani tak mau luput dari pandangan.
"Awasi dia, jangan sampai luput, kalau bisa jangan kedip". Ujar salah satu santri. Hingga Jaelani berjalan dengan cepat kearah laut. Seluruh santripun juga mengikuti Jaelani dengan cepat. Mereka terkejut, karena mendapati Jaelani yang dapat berjalan ke tengah laut. Mereka melihat Jaelani sedang sholat berjama'ah dengan banyak orang di tengah laut.
Hingga Jaelani selesai melaksanakan sholat dan dzikir. Lalu ia pun kembali berjalan dengan cepat, yang diikuti oleh santri lainnya.
Sesampainya di pondok, para santri kembali lapor kepada Mbah Sahlan.
"Kyai, ternyata Jaelani sholat berjamaah dengan orang banyak ditengah laut". Lapor santri.
"Berarti Jaelani sholat? Sudah kalian pastikan?". Tanya Mbah Sahlan.
"Iya Kyai benar, tadi Jaelani sudah kami ikuti, ternyata ia sholat berjamaah di tengah laut dengan orang banyak. Dan semua jama'ah itu mengenakan pakaian serba putih. Pas ketika adzan isya' kami sampai di sini Kyai". Ujar salah satu santri melapor.
"Berarti Jaelani sholat maghrib kan?". Tanya mbah sahlan.
"Iya Kyai, Jaelani sholat maghrib". Jawab santri dengan yakin.
"Lalu bagaimana dengan kalian? Apakah kalian telah melaksanakan sholat maghrib?" Tanya Mbah Sahlan memastikan.
Hening yang terjadi, hanya suara jangkrik yang terdengar, hingga ada salah satu santri bersuara. "Belum kyai". Jawab seorang santri.
"Berarti yang tidak sholat kan kalian bukan Jaelani". Ujar Mbah Sahlan menjelaskan.
" Iya Kyai". Jawab para santri serentak.
"Makanya, jangan suka sembarangan nuduh, kalo ginikan jadi kalian yang tidak sholat maghrib." Ujar Mbah Sahlan menasihati.
Dari kisah ini, dapat dipetik hikmah bahwa, kita jangan sembarangan nuduh orang lain tanpa tau sebab, alasan, dan kenyataan yang ada. Karena bagaimanapun, kita juga harus saling menghargai dan menghormati orang lain.
Allah SWT berfirman:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيم
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)
Penulis : Silvyatul A
Editor Gambar : Alfi Nur A
Kontributor : Tim El-Hida Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar