Uwais Al Qarni Pergi ke Madinah
Setelah mencapai perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al Qarni sampai juga di kota Madinah. Segera ia mencari rumah Nabi Muhammad. Setelah ia menemukan rumah Nabi, ia mengetuk pintu seraya mengucap salam. Lalu keluarlah seseorang seraya menjawab salamnya. Segera saja Uwais Al Qarni menanyakan Nabi yang ingin ia dijumpai. Namun, Nabi tidak sedang berada di Rumah, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al Qarni hanya bisa bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi Nabi tidak dapat dijumpainya.
Dalam hati Uwais Al Qarni bergejolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sementara masih terniang di telinganya pesan sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar cepat pulang ke Yaman, "Engkau harus segera pulang."
Akhirnya, karena ketaatanya kepada sang ibu, pesan yang keluar memenangkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al Qarni meminta pamit kepada Siti Aisyah ra, untuk segera kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais pun segera pulang sambil mengayunkan langkahnya dengan perasaan sangat senang dan terharu.
Peperangan memiliki usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi meminta Siti Aisyah ra,untuk menceritakan tentang orang yang mencarinya. Nabi berkata bahwa Uwais adalah seorang anak yang taat kepada sang ibu. Ia adalah seorang penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut Keterangan Siti Aisyah ra memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan, maka ia harus segera pulang. Nabi Muhammad menjawab pertanyaannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, "Jika kalian ingin berjumpa dengan dia, dapatkanlah ia memiliki tanda putih di tengah telapak yang dituju."
Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, "Sebuah kompilasi dengan kalian, mintalah do'a dan istighfar nya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi."
Waktu terus berganti, dan Nabi kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khathab. suatu kompilasi Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit. Dia segera mengingatkan kembali sabda Nabi kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. Setiap saat, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib selalu bertanya tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu. yang hanya dapat menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa sahabat nabi Khalifah Umar bin Khathab dan Ali bin Abi Thalib selalu mencarinya?
Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam memilih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu saat, Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan meminta apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera pergi menjumpai Uwais Al Qarni.
Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang salat. Setelah menyelesaikan salatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib sambil menatap kedua sahabat Nabi tersebut dan mengulurkan tangan kembali untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah diterima Nabi. Memang benar! Tampaklah tanda putihdi telapak tangan Uwais Al Qarni.
Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi. Bagaimanapun ia adalah penghuni langit. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib meminta namanya, dan dijawab, "Abdullah". Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan berkata, “Kami juga Abdullah, yaitu hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya? ” Uwais kemudian berkata, "Nama saya Uwais Al Qarni".
Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru bisa ikut bersama rombongan kafilah perdagangan saat itu. akhirnya Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan Istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, "Saya lah yang harus meminta do'a pada kalian".
Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata,“ Kami datang kesini untuk meminta doa dan istighfar darimub”. Seperti yang diberikan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, mengucapkan dan membacakan istighfar. Setelah itu, Khalifah Umar meminta untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal diberikan kepada Uwais, dan agar setuju. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba minta tolong hari ini saja hamba kenal orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang palsu ini tidak diakui orang lagi. ”
Sumber : https://islam.nu.or.id/post/read/65059/kisah-uwais-al-qarni-pemuda-istimewa-di-mata-rasulullah
Penulis : Sylviyatul A
Editor gambar : Alfi Nur A
Kontributor : Tim El-Hida Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar