Sabtu, 23 November 2019

TAUBAT


                                    Taubat

Allah, dalam hadist qudsi-Nya berfirman bahwa siapapun yang bertaubat pada Allah dengan mengharap rahmat-Nya. Maka dosa sebesar apapun pasti di maafkan dan diampuni oleh Allah,  hingga bila diibaratkan bahwa dosanya memenuhi alam semesta, dapat diterima permintaan maafnya oleh Allah. Dengan cara bertaubat dan mengharapkan rahmat serta maghfirah dariNya kecuali musyrik. Namun itupun tetap dapat diampuni oleh Allah selagi ruhnya belum sampai tenggorakan. 

Dalam hal ini, Kyai Muchlas mencontohkan sebuah cerita bahwasanya dahulu ada seseorang yang memiliki kegemaran membunuh orang lain. Hingga pada hitungan 98 orang yang telah dibunuh, ia berniat sowan kepada salah seorang kyai dengan tujuan menanyakan perihal perbuatannya apakah masih dapat diampuni Allah atau tidak. Kemudian sang kyai pun berpendapat bahwa dosanya terlalu besar sehingga ia tidak dapat diampuni Allah sekalipun meminta maaf dan bertaubat. Karena marah mendengarkan penuturan kyai tersebut maka, kyai tersebut dibunuh juga oleh seseorang itu. Hingga genaplah hitungan 99 korban yang telah terbunuh ditangannya. Lalu, ia mencari kyai lain untuk menyakan persoalan yang sama. Kali ini jawaban kyai tersebut berbeda. Beliau berpendapat bahwa ia bisa diampuni oleh Allah dengan cara bertaubat, menyesal, dan tidak akan mengulangi dosa tersebut. Akhirnya seseorang tersebut bertaubat dengan dibimbing oleh sang Kyai. Kisah ini menunjukkan bahwa pengampunan Allah akan selalu terbuka bagi hambanya selama ia mau bertaubat.

Lebih lanjut beliau menjelaskan beberapa syarat taubat, yaitu:
1). Merasa menyesal
    Sesorang yang hendak bertaubat harus memiliki rasa menyesal karena telah melakukan dosa. Sehingga hati orang tersebut benar-benar tergerak untuk melakukan taubat kepada Allah.
2). Berhenti dari perbuatan dosa
      Dosa apapun yang telah dilakukan, harus dihentikan tidak diulangi kembali. 
3). Bertekad kuat untuk tidak mengulangi
      Orang yang melakukan taubat harus memiliki tekad kuat untuk tidak melakukan perbuatan dosa lagi. Karena dengan adanya tekad yang kuat tersebut diharapakan orang yang bertaubat dapat kokoh dari segala godaan yang membuat ia melakukan perbuatan dosa, atau mengulangi perbuatan yang telah dilakukan.
4). Memohon ampun kepada Allah
      Pada intinya, Allah mensyaratkan bertaubat ialah taubat yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha). Bukan hanya sekedar taubat yang sekiranya orang tersebut dapat mengulanginya kembali. Dalam hal ini Allah bukan hanya menilai taubat kita, melainkan usaha dan upaya dalam proses perbaikan diri setelah bertaubat.

Akhir kata, semoga kita ditakdirkan oleh Allah menjadi orang yang ahli bertaubat dan dijauhkan dari maksiat. Amin…

Penulis: Yazid Bustomi
Kontributor: Tim Elhida Press
Diintisarikan dari pengajian Arbain An-Nawawi Bab Taubat oleh KH. Muchlas Ismail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Al-Hidayah

 http://gg.gg/ppdb-ppalhidayahkarangploso