Sabtu, 23 November 2019

DOA

Adab Berdoa

يا عَلي, لا تجهر بقراءتك ولا دعائك حيث يصلي الناس؛ فإن ذلك يفسد صلاتهم

“wahai Ali, janganlah engkau mengeraskan bacaan Alquran dan doamu disamping orang-orang yang sedang sholat, karena hal tersebut dapat merusak (kehusyuan) sholat mereka”

Doa merupakan ruh ibadah. Dengan doa, merupakan sebuah pernyataan kehambaan diri dan butuh kepada Allah SWT. Doa pula merupakan washilah bathiniyyah hamba dengan Tuhannya. Karena doa adalah suatu hal yang penting dan sakral. Maka dalam kitab wasiyatul musthofa dijelaskan beberapa adab berdoa, diantaranya:
1. Membuka dada
    Maksudnya adalah melebarkan dada dengan menjadikan tubuh tegak tanpa membusungkan kedepan.
2. Menelentangkan kedua telapak tangan sebatas dada
     Batasan ini tidak boleh melebihi diatas kepala.
3. Berisyaroh dengan telunjuk kanan saat berdoa

Selain tiga perkara diatas, adab berdoa yang tak kalah pentingnya adalah, merasa hina dan butuh pada rahmat Allah. Serta pada saat berdoa tidak sampai mengganggu orang lain terlebih ketika orang sholat. Dalam hadist berikutnya jelas dipaparkan bahwa, kita dilarang berdoa dengan suara yang keras pada saat seseorang lain sedang melakukan sholat. Hal ini dilarang oleh Rosul dikarenakan dikhawatirkan mengganggu kekhusyukan orang yang sholat tersebut. Kemudian dijelaskan pula oleh Abah Muchlas, bahwa doa yang ampuh (dalam hal kekhusyukan dan berdialog dengan Allah) meliputi lima unsur. Hal ini beliau utarakan dengan bahasa jawa, yaitu:

a.  Merem
      Hal yang dimaksud disini adalah, saat kita berdoa mata dalam keadaan terpejam. Hal ini melatih diri untuk dapat lebih khusyuk ketika berdoa. Serta pikiran dan hati fokus pada Sang Penguasa Jagad.
b.  Meneng
     Adalah posisi tubuh dalam keadaan diam dan tenang. 
c.  Mingkem
      Maksudnya adalah bibir terkatup. Sehingga hanya hati yang berdialog dengan Allah.
d.  Dingkluk
      Yang dimaksud dingkluk disini adalah. Memposisikan leher atau kepala sedikit merunduk kebawah. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kehambaan dan kerendah hatian kita saat berdoa. Tidak dengan mendongakkan kepala.
e.  Jalok marang Gusti
      Kemudian hal yang terakhir dilakukan adalah berdoa kepada Allah dengan menggunakan hati dan fikiran. Sembari mengagungkan Allah SWT.

Kemudian beliau menjelaskan tentang istighfar, dimana istigfar disini secara garis besar juga merupakan bagian dari doa kepada Allah dengan bentuk meminta ampunan atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Secara lebih rinci kata istighfar terbagi menjadi dua kata, dimana dua kata tersebut sering digunakan dalam lafadz dzikir ataupun doa. Yaitu:
- Kata غفر
Kata ghafara disini memiliki arti secara bahasa yaitu, menutup. Sedangkan secara makna ialah menutup aib, dosa, dan kesalahan. Oleh karena itu lafadz istighfar yang berakar kata ghafara ini secara maksud maknanya yaitu memohon kepada Allah supaya dosa, kesalahan, dan aib yang telah dilakukan oleh hamba ditutupi oleh Allah.
- Kata عفو
Kata afwun dalam hal ini secara bahasa ialah menghapus. Sedangkan makna dari kata ini ialah memohon kepada Allah agar dosa, kesalahan, dan aib si pendoa dihapus dan diampuni oleh Allah.

Dari beberapa pengertian asal kata istighfar diatas dapat diambil kesimpulan bahwa, kita sebagai manusia hendaknya selalu memohon ampun kepada Allah. Karena sudah barang tentu manusia memiliki dosa dan kesalahan, sehingga andai kata diistilahkan dapat diambil sebuah kata; seumpama sedikit saja manusia dibuka aibnya oleh Allah, maka niscaya tidak akan (tampak) ada orang yang sanggup menjadi pemimpin, karena tidak ada yang bisa lepas dari aib dan kesalahan. Oleh karena itu kita oleh Allah dianjurkan dan diperintahkan untuk senantiasa meminta ampun dan maaf kepada Allah atas segala amal yang telah diperbuat.

Amal, selain dengan cara berdoa dan istighfar masih banyak lagi macamnya. Namun, menurut beliau amal yang terbaik ialah amal yang dikerjakan secara terus-menerus yang dalam Islam dikenal dengan Istiqomah. Karena terdapat beberapa kaidah tentang keistimewaan istiqomah, diantaranya:

▪ الإستقامةمن علامةالكرامة
“istiqomah merupakan salah satu tanda dari karomah”
Dalam hal ini, dapat diartikan bahwa salah satu tanda seorang wali ialah memiliki keistiqomahan yang selalu dilakukan tanpa putus.
▪ الإستقامة اولى من الكرامة
“istiqomah lebih utama dari karomah”
Yang dimaksud disini adalah tidak mungkin seseorang mendapatkan sebuah karomah, jika ia tidak memiliki keistiqomahan. Karena sejatinya satu istiqomah lebih mulia dari seribu karomah.

Sebagai penutup, kami sampaikan sebuah kaidah “Jangan melakukan sebuah perkara yang dapat mengganggu atau merugikan orang lain” meskipun hal tersebut baik manurut kacamata manusia. Contohnya doa dan membaca Alquran. Dari keterangan diawal tadi dijelaskan bahwa seseorang tidak boleh mengeraskan suara bacaan doanya bila terdapat orang sholat karena khawatir mengganggu kekhusyuan. Begitu pula dengan membaca Alquran, tidak boleh sampai mengganggu orang yang sedang sholat. Apalagi melakukan hal yang buruk, seperti bergurau.
Inti dari keterangan tersebut adalah, bagaimana kita pandai-pandai bersikap sehingga tidak sampai merugikan atau bahkan melukai perasaan orang lain.

Kontributor : Tim Elhida Press
Penulis : Yazid Bustomi
Dirangkum pada pengajian rutin sabtu sore
Oleh KH.Muchlas Ismail
Kitab wasiyatul mustofa bab doa halaman 11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Al-Hidayah

 http://gg.gg/ppdb-ppalhidayahkarangploso