HIDUP SEDERHANA
كُلْ وَاشْرَبْ وَالْبَسْ وَتَصَدَّقْ فِيْ غَيْرِ سَرَفٍ وَلاَ مَخِيْلَةٍ ((رواه أبو داود وأحمد
"Makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bersedakahlah dengan tidak berlebih-lebihan (boros) dan tidak bermegah-megahan (sombong)".
(HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Hadis diatas menjelaskan tentang ketidakbolehan isrof yaitu berlebihan dalam makanan, minuman, atau pakaian. Maksud dari hadis tersebut kita dianjurkan untuk hidup sederhana. Oleh karena itu Makan selain merupakan kebutuhan pokok setiap makhluq hidup, terutama manusia. Makan juga merupakan sebuah perintah Allah yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW. Namun ada beberap hal yang patut diketahui supaya pekerjaan kita berupa makan (termasuk pula minum dan berpakaian) mendapat nilai ibadah dari Allah, diantaranya:
1).Niat menjalankan perintah Nabi dan perintah agama
Telah jelas kita ketahui bahwasanya bila segala kegiatan yang kita lakukan disandarkan dengan mengikuti perintah Nabi maka hal tersebut memiliki kandungan nilai ibadah, tidak terkecuali makan.
2).Tidak berlebihan, tidak pula sampai kelaparan
Sesuai dengan hadist diatas bahwasanya kita tidak boleh berlebihan dalam hal yang berkaitan dengan makan, minum, dan berpakaia. Karena hakikatnya ornag yang melakukan tindakan berlebihan dalam hal apapun termasuk dari golongan bala tentara setan. Karena setan menyukai orang-orang yang berbuat berlebihan. Oleh karena itu salah satu cara agar kita terhindar dari sifat berlebihan adalah dengan melakukan sedekah. Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan Abah Muchlas; bahwa orang yang terbiasa atau sering melakukan Isrof (berlebihan) maka hawa nafsunya akan senantiasa menuntut pada sesuatu yang lebih tinggi. Karena hawa nafsu tidak akan merasakan puas selamanya jika tidak dilatih dan dikekang.
Tidak diperbolehkan hingga mencapai taraf kelaparan disini yang dimaksud adalah jika seseorang sampai mengalami keadaan lapar yang berat, maka ia akan memiliki sifat tamak dan malas. Naudzubillah. Hal ini terjadi berbeda dengan orang yang lapar dalam keadaan puasa atau melakukan riyadloh (melatih diri).
3).Tidak menuruti hawa nafsu
Dalam masalah menuruti hawa nafsu, kadar yang dapat dijadikan acuan adalah kata cukup. Hal ini berarti bila kita makan atau minum hendaknya sampai pada tingkatan cukup. Maksudnya ialah ia mekan dan minum dalam posisi butuh atau lapar dan berhenti sebelum kenyang. Ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad. Karena orang yang selalu dalam keadaan kenyang akan rentan terhadap penyakit. Apalagi orang yang rakus.
Dari keterangan diatas, terdapat poin penting yang perlu diperhatikan. Yaitu kondisi hati dalam melakukan hal entah itu berupa makan, minum, ataupun berpakaian. Karena hati yang tak pernah dilatih untuk memerangi dan melatih nafsu akan sulit membedakan niatnya, apakah melakukan hal tersebut mengikuti perintah Nabi dan Agama ataukah menuruti hawa nafsu belaka. Oleh karena itu Rosulallah menganjurkan kita untuk senantiasa berpuasa dalam rangka melatih diri.
Kontributor: Tim Elhida Press
Penulis: Sylviyatul Aliyah
Editor : Yazid Bustomi
Diintisarikan dari Pengajian Rutin Selasa
Oleh KH. Muchlas Ismail
26 November 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar