Jumat, 13 Desember 2019

Kisah 2 Wanita


Kisah Dua Wanita

   Syekh Ahmad Sihabuddin bin Salamah al-Qalyubi bercerita, dulu pada zaman Bani Israil ada seorang Ibu yang sangat sayang kepada anak laki-lakinya. Suatu ketika anaknya sedang sakit, sang ibu mencarikan obat dan dokter berkali-kali tetap saja anaknya tak sembuh. Kemudian Sang Ibu bernadzar "apabila anakku sembuh aku akan keluar dari dunia ini selama 7 hari"

Beberapa hari kemudian sang Anak sembuh, sembuh total. Sang ibu teringat nadzarnya dan bingung bagaimana memenuhi nadzarnya. Di suatu malam sang Ibu bermimpi bertemu dengan orang tua dan diberikan nasihat agar segera memenuhi nadzarnya atau musibah akan datang. Orang itu juga memberi tau bagaimana cara melaksanakan nadzarnya yaitu dengan dikubur selama 7 hari

Pada saat paginya Sang Ibu menceritakan semuanya dan meminta untuk dikuburkan selama 7 hari.Sebelum dikubur Sang Ibu berdo'a agar ketika didalam kubur tidak terkena bahaya apapun. Akhirnya Sang Ibu dikubur oleh anaknya.

Didalam kuburan yang sangat gelap Sang Ibu melihat ada satu lubang kecil yang mengeluarkan cahaya yang terang. Sang Ibu mengintip di lubang tersebut, melihat ada taman yang indah dan ada dua seorang wanita yang duduk dan mengobrol santai.

Mereka berdua sadar ada yang mengintipnya, kemudian berkata "hai perempuan dari pada engkau mengintip saja kemarilah bersama kami". Setelah itu Sang Ibu keluar dari kuburan dengan melewati lubang kecil yang digali sampai cukup untuk Sang Ibu keluar.

Kemudian Ibu yang masih hidup menghampiri kedua perempuan tersebut dan mengucapkan salam tapi keduanya tidak menjawab. Sang Ibu bertanya "wahai perempuan kenapa kalian tidak menjawab salamku?", keduanya menjawab  "salam itu ibadah, ini bukan lagi didunia ini alam kubur tidak ada yang ibadah, engkau mengucapkan salam itu ibadah disini bukan lagi untuk mencari pahala."

Ditengah-tengah obrolan mereka tiba-tiba dari atas turun dua burung garuda yang kemudian mengambil posisi diselah dua perempuan tersebut.  Satu diantara permpuan itu, dikipasi dengan sayap garuda. Tapi satu diantaranya dipatuki oleh garuda, sampai berdarah dan keluar otaknya. Tapi, mereka bertiga masih mengobrol walaupun diantaranya ada yang dipatuk garuda.

Ibu yang masih hidup bertanya, “Kalian memiliki tempat yang sama dan fasilitas yang sama, tapi kenapa satu dikipasi dan satu disiksa?”.  Perempuan yang dikipasi berkata, “Saya dulu, ibadah kepada Allah, dan taat kepada suami, dalam hal apapun saya meminta ridla kepada suami, sampai suatu ketika saya mati, suami saya meridlai”. 

Perempuan yang dipatuk garuda berkata, “Saya dulu juga beribadah kepada Allah, puasa saya bagus, salat saya juga bagus, oleh karena itu Allah memberi saya tempat yang bagus, tapi saya cerewet kepada suami, sampai suatu ketika saya m mati, suami saya tidak meridlai saya”.

Tiga ibu-ibu itu ngobrol terus, sampai tidak terasa sudah satu minggu. Dan anak dari ibu yang bernazar pun sudah menggali kubur si ibu. Anaknya sangat bahagia karena bisa melihat ibunya kembali, dalam keadaan yang selamat. 

Setelah keluar dari kubur, kampung tempat ibu itu ramai. Semua berdatangan ke rumah ibu dan anak itu karena kaget menganggap ada orang mati hidup lagi. Sang ibu pun bercerita pengalamannya di kubur, tentang pertemuannya dengan dua perempuan di taman dan masing-masing kisahnya. 

Ternyata, diantara yang hadir ada Abdullah, suami dari perempuan yang dipatuk gunung garuda. 
Kemudian disampaikan lah salam dari istrinya. Sang suami tampak belum ridla, tapi pada akhirnya ia ridla pada istrinya. 

Tidak lama ibu itu bermimpi lagi bertemu dengan dua perempuan. Keduanya sekarang sudah sama-sama enak dan sama-sama dikipasi oleh garuda. 



Penulis : Siti Nur Maulidiah
Editor sampul : Alfi Nur A
Kontributor : Tim El Hida Press
Diceritakan oleh KH.Moch Djamaluddin Ahmad ketika Haul istri beliau Ibu Nyai Hj. Khurriyyah Djamal dan diceritakan kembali oleh Ustadz Hasib Ismaili ketika pengajian hari Sabtu pagi di Ponpes Al Hidayah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Al-Hidayah

 http://gg.gg/ppdb-ppalhidayahkarangploso