Jumat, 17 April 2020

KEISTIMEWAAN DUA KYAI BERHATI BERSIH



KEISTIMEWAAN DUA KYAI YANG BERHATI BERSIH

Suatu saat seorang santri (sebut saja si fulan) berhenti di masjid untuk melaksanakan sholat. Ia adalah seorang santri yang sedang mengembara, dan hanya kebetulan singgah saja saat itu. Kyai Abdul Razak at - Turmasi, seorang kyai yang juga  sholat di masjid tersebut merasa penasaran dengan si fulan. Beliau memperhatikan sholat dan wirid si fulan. Mengapa sholat dan wiridnya begitu khusyuk sekali, gumam Kyai Abdul Razak. 

Ke esokan harinya Kyai Abdul Razak memperhatikan lagi kekhusyukan si fulan. Dan tiba-tiba saja beliau melihat ia dijaga oleh empat malaikat ketika sedang wiridan. Beliau semakin penasaran dengan santri itu, bagaimana bisa ia mendapat penjagaan seperti itu. 
Kemudian dipanggillah si fulan oleh Kyai Abdul Razak. Beliau berkata, " Hai fulan, amalan apa yang kau baca tadi? Mengapa kau sampai dijaga oleh empat malaikat ketika sedang wiridan?". 
"Aku mendapatkan amalan yang kubaca dari Kyai Mustaqim". Jawab si fulan. 
"Apakah bisa aku mendapatkan amalan itu juga? Jika bisa, aku akan showan kepada Kyai Mustaqim". Tanya Kyai Abdul Razak. 
"Bisa, engkau bisa showan dan meminta amalan padanya". Jawab si fulan. 
Kyai Abdul Razak pun berangkat showan kepada Kyai Mustaqim, guru dari si fulan. 
Sesampainya beliau di tempat Kyai Mustaqim, beliau mengutarakan maksud kedatangannya. 
"Maaf Kyai, saya ingin amalan yang bisa dijaga oleh empat malaikat seperti yang dimiliki santri anda". Ucap Kyai Abdul Razak. 
"Ohh.. Saya tidak mempunyai amalan yang bisa dijaga oleh empat malaikat, itu amalannya si fulan sendiri". Jawab Kyai Mustaqim. 

Setelah mengetahui hal tersebut, Kyai Abdul Razak kembali ke masjid dan menemui si fulan. 
"Hai fulan, Kyai Mustaqim berkata bahwa beliau tidak memiliki amalan yang ku inginkan". Kata Kyai Abdul Razak. 
"Bagaimana anda mengatakan keinginan anda kepada Kyai Mustaqim?". Tanya si fulan pada Kyai Abdul Razak. 
"Aku berkata bahwa aku menginginkan amalan agar bisa dijaga oleh empat malaikat ". Jawab Kyai Abdul Razak. 
"Maaf Kyai, seharusnya anda tidak mengatakan seperti itu. Mintalah amalan yang sesuai untuk anda Kyai". Ucap si fulan sopan. 
Kyai Abdul Razak kembali showan kepada Kyai Mustaqim dan mengatakan keinginannya lagi, namun kali ini menggunakan cara yang telah diberitahu oleh si fulan. 

Kyai Mustaqim adalah seorang yang melakukan amalan dengan niat lillahita'ala. Beliau tidak pernah berniat kepada selain Allah .swt. Semua amalan beliau selalu karena Allah .swt. tanpa ingin tahu bermanfaat untuk apa. Keistimewaan beliau sejak berumur lima tahun adalah hatinya tidak pernah berhenti menyebut asma Allah .swt. hal itu tanpa beliau kehendaki. Hingga suatu hari saat beliau masih kecil, beliau bertanya kepada ayahnya "Wahai ayahku, mengapa aku tak bisa mengendalikan hatiku untuk berhenti menyebut asma Allah .swt.? "
Keistimewaan yang dimiliki beliau begitu indah, sebelum baligh hatinya sudah tergerak untuk selalu mengingat Allah .swt. 
Setelah Kyai Abdul Razak mengatakan keinginannya, Kyai Mustaqim berkata kepada Kyai Abdul Razak "Aku akan memberi anda ijazah amalan, namun dengan syarat kita harus saling tukar ijazah". Jawab Kyai Mustaqim. 

Kyai Abdul Razak at - Turmasi adalah seorang kyai yang terkenal sering memberi ijazah kepada murid-muridnya. Beliau sering mengijazahkan amalan yang dimiliki kepada muridnya. Meskipun beliau adalah seorang kyai, keinginannya untuk diberi ijazah oleh Kyai Mustaqim menunjukan betapa beliau adalah seorang yang rendah hati.

Akhirnya, Kyai Abdul Razak menyetujui syarat yang diajukan oleh Kyai Mustaqim. Keduanya saling duduk bersila dan berhadapan untuk menerima dan memberi ijazah. Kemudian keduanya berjabat tangan dan memejamkan mata seraya mengucap kalimat Laa ilaa ha illallaah. Setelah sekian lama memejamkan mata, Kyai Abdul Razak pelan - pelan membuka matanya. Beliau melihat bahwa dirinya dan Kyai Mustaqim melayang, namun letak beliau lebih rendah dari Kyai Mustaqim.
Hal tersebut menandakan bahwa maqom (letak/derajat) Kyai Mustaqim lebih tinggi dibandingkan Kyai Abdul Razak. 

Selesai melakukan tukar menukar ijazah keduanya duduk kembali. Kyai Abdul Razak berkata pada Kyai Mustaqim "Baiklah Kyai, mulai sekarang aku tidak lagi memberikan ijazah pada muridku. Aku pasrahkan kepada anda untuk memberikan ijazah apapun kepada muridku. 

أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. ar-Ra’du: 28)


Penulis : Nila Andrias
Editor Gambar : Alfi Nur A
Kontributor :Tim El Hida Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Al-Hidayah

 http://gg.gg/ppdb-ppalhidayahkarangploso