Minggu, 03 Mei 2020

KH. ISMAIL ARIF BIN RADEN PAKUNEGORO



KH. Ismail, adalah seseorang yang sederhana. Dikalangan keluarga, beliau dikenal dengan seorang yang biasa-biasa saja, tetapi dikalangan masyarakat beliau dikenal sebagai waliyullah. Beliau adalah seorang yang pandai merahasiakan sesuatu. Padahal beliau adalah seseorang yang tau sesuatu yang akan terjadi. 
Salah satu cerita yang diceritakan oleh Abah Mukhlas (Pengasuh Ponpes Al-Hidayah). Ketika ada pendirian atau perenovasian menara masjid, disitu ada batu besar yang akan dipindahkan dengan kendaraan mesin besar(bego) tetapi tidak bisa karena saking keramatnya. Suatu ketika, Orang-orang menimbun baru besar itu disitu, dan batu yang lain disingkirkan. Pada suatu malam, ada satu batu yang bilang kepada kyai Ismail bahwa ia tidak mau dibuang, karena ingin diletakkan disitu juga. Hanya saja kyai Ismail tidak memberikan keterangan secara jelas kepada orang-orang. Hanya saja kyai Ismail memberikan isyarat bahwasanya ada batu yang belum ditaruh disitu. Tetapi orang-orang bilang bahwa semua batu telah diletakkan disitu. Lalu kyai Ismail bilang kepada orang-orang untuk kembali memeriksanya, dan akhirnya ketemulah batu itu dan langsung diletakkan juga dibangunan masjid. 
Dilain cerita, ketika ada salah seorang ingin mewaqofkan rumahnya untuk pondok pesantren Al-hidayah. Seseorang itu telah mengamanahkan kepada kyai Ismail, tetapi oleh kyai Ismail hanya mengiyakan tetapi belum mengucapkan tanda terima. Ketika rumah tersebut akan dijual, rumah itu bilang kepada kyai Ismail secara isyarat, bahwasannya rumah itu tidak mau dijual. Akhirnya, kyai Ismail datang kepada sang pemilik rumah untuk mengucapkan tanda terima. Dan sang pemilik mengucapkan saya berikan rumah ini. Dan akhirnya rumah tersebut bisa dijual. 

Dilain cerita, ketika ada seseorang ingin berkorban sapi yang diberikan kepada kyai Ismail. Dikira sapi tersebut sudah poel (sudah cukup umur) untuk dikorbankan. Tetapi kyai Ismail memiliki firasat bahwa sapi itu belum poel (cukup umur). Laku kyai Ismail menanyakan kepada sang pemilik, apakah sapi tersebut sudah cukup umur apa belum? Dan ketika diperiksa, ternyata sapi tersebut masih belum cukup umur, dan akhirnya sang pemilik berniatan untuk menukarkan sapi tersebut dengan sapi yang sedah cukup umur untuk dikorbankan. Akan tetapi ketika ditengah perjalanan, sapi tersebut telah poel, dan lalu dikembalikan kepada kyai Ismail untuk dikorbankan. 

Kyai Ismail menjadi seseorang yang istimewa karena berkat dari riyadho sang ibu, yang selalu keluar malam untuk sekedar mendo'akan kyai Ismail.
Ditiap malam ibu dari kyai Ismail keluar dari rumahnya, beliau berdo'a dimalam tersebut. Dibalik orang yang hebat, seringkali ada do'a seorang ibu yang mengiringi jalan hidupnya. 


Sumber : Pengajian rutin sabtu sore, dikisahkan oleh Abah Mukhlas (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah) 

Penulis : Sylviyatul A
Editor Gambar : Alfi Nur A
Kontributor : Tim El-Hida Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Al-Hidayah

 http://gg.gg/ppdb-ppalhidayahkarangploso