WABAH PENYAKIT PADA ZAMAN KERAJAAN BLAMBANGAN
Syaikh Maulana Ishaq adalah putra dari Syaikh Jumadil Kubro. Beliau lahir di Samarqand, Uzbekistan dan datang ke Jawa Timur pada tahun 1404 M. Suatu saat, kerajaan Blambangan yang diperintah seorang raja bernama Minak Sembuyu digegerkan oleh adanya wabah penyakit atau pagebluk. Banyak rakyat yang meninggal karena penyakit tersebut. Penyakit ini sangat berbahaya dan menular, karena banyak rakyat yang paginya sakit sore meninggal ataupun sebaliknya.
Tak terkecuali putri kesayangan Minak Sembuyu yang bernama Dewi Sekardadu, ia juga terkena wabah penyakit tersebut. Lalu Minak Sembuyu mengadakan saembara yang boleh diikuti oleh siapa saja. Barangsiapa yang bisa menghilangkan wabah penyakit itu dari daerah Blambangan, jika dia laki-laki maka akan dijadikan menantu dan jika dia perempuan maka akan dijadikan anaknya.
Akhirnya Syaikh Maulana Ishaq mengikuti saembara yang diadakan Minak Sembuyu. Beliau riyadoh di bukit Pecaron, tempat yang dulunya terpisah dari Pulau Jawa. Setelah riyadoh sekian lamanya, Maulana Ishaq berhasil memenangkan saembara. Beliau dinikahkan dengan putri Minak Sembuyu, Dewi Sekardadu. Dari pernikahan keduanya nanti akan melahirkan Sunan Giri yang biasa dikenal sebagai Raden Paku.
Kekuasaan daerah Blambangan diserahkan pada Maulana Ishaq oleh Minak Sembuyu. Luasnya daerah pemerintahan Maulana Ishaq menjadikan banyak orang yang merasa iri kepadanya. Banyak orang yang memiliki niat jahat kepada Maulana Ishaq, salah satunya adalah mertuanya sendiri, Minak Sembuyu.
Maulana Ishaq mengetahui rencana Minak Sembuyu yang ingin membunuhnya. Akhirnya, Maulana Ishaq berencana melarikan diri dari daerah Blambangan menuju Surabaya untuk berguru pada Raden Rahmad (Sunan Ampel). Ketika itu Dewi Sekardadu sedang mengandung 7 bulan. Beliau berpesan pada Dewi Sekardadu jika nanti anak yang diandungnya lahir, harus dihanyutkan ke laut. Dewi Sekardadupun mengiyakan perintah suaminya, meski dengan berat hati ia harus menghanyutkan buah hatinya ke laut.
Setelah bayinya lahir, Dewi Sekardadu lengsung melaksanakan perintah suaminya untuk menghanyutkan bayinya ke laut. Dengan dihanyutkan bayi Sunan Giri ke laut, ketika besar ia akan dikenal dengan julukan Joko Samudro. Karena saat bayi ia dihanyutkan di laut atau samudera. Setelah dihanyutkan, bayi Sunan Giri ditemukan oleh seorang wanita yang bernama Nyi Ageng Pinantih.
Penulis : Rifdah
Kontributor : Tim Elhida Santri
Sumber : Ngaji setiap hari Sabtu sore, dikisahkan oleh pengasuh Pondok Pesantren Al - Hidayah (Abah Muclas Ahmad Soleh)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar